2 tahun lalu |16 April 2016 16:17 |4829 Pembaca

Gurihnya Oleh-oleh Khas Sibolga

Foto: Ikan asin produksi dan oleh-oleh khas Sibolga. Harmen/ST

SIBOLGA, SUARATAPANULI.COM – Sumatera Utara dikenal sebagai daerah penghasil ikan asin. Salah satu centranya ada di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah. Kalau Anda datang ke Pulau Andalas, maka belum lengkap rasanya jika tidak mencicipinya.

Sebagai daerah kan asin yang terletak di pantai barat pulau Sumatera, Sibolga memiliki beberapa kawasan industri pembuat ikan asin. Sektor perikanan kelautan memang potensi utama perekonomian kota berjuluk ‘Negeri Berbilang Kaum, Perekat Antar Umat beragama’ itu.

Hasil utama perikanan lautnya antara lain, kerapu, tuna, kakap, kembung, bambangan, layang, sardines, lencam dan teri. Pusat produksinya seperti di Kelurahan Pasar Belakang Sibolga, Pintu Angin Sibolga, Kelurahan Hajoran Pandan, Tapanuli Tengah, dan lainnya.

Pengolahannya masih tradisional. Diracik dan dijemur dengan mengandalkan sinar matahari. Rumah-rumah produksi ada yang skala koperasi dan usaha mandiri perorangan.

Seperti di salah satu industri pengasinan ikan di Jalan S Parman, Sibolga yaitu pengasinan ikan sardin (KKO). Ikan sardin ini sebenarnya tidak berasa asin dan ini jenis ikan yang tidak banyak diasinkan. Ada juga cumi asinan.

Proses pengasinan ini pertama kali dilakukan membelahnya terlebih dulu sebelum dibentuk, lalu direndam dalam larutan air garam. Kadar garam dalam larutan inipun ada takarannya. Lalu ikan dijemur di terik matahari.

Selain dikonsumsi oleh masyarakat di provinsi itu sendiri, ikan asin produksi Sibolga juga telah laman dikirim ke beberapa daerah lain, seperti Pulau Jawa, dan provinsi lainnya.

Foto: Pembeli saat belanja ikan asin khas Sibolga yang gurih. Harmen/ST Foto: Pembeli saat belanja ikan asin khas Sibolga yang gurih. Harmen/ST

Marwan Situmeang, salah satu pengusaha ikan asin di Sibolga mengaku biasanya untuk 1 ton ikan, larutan air dicampur dengan 300 kg garam. Proses perendaman air garam ini hanya 1 jam saja. Setelah itu baru dijemur selama kurang lebih 5 jam.

“Ikan yang sudah kering kemudian dikemas sesuai ukuran permintaan konsumen. Di pasaran harga ikan sardine asin ini sekarang dijual Rp25.000 hingga Rp35.000 ribu per kilogram,” katanya.

Hasil penjualan ikan asin ini cukup lumayan selain bisa mencukupi kebutuhan primer dan sekunder pemilik usaha dan pekerja.

Tapi sungguh disayangkan, para pengusaha ikan asin di Sibolga kini banyak mengeluh semenjak Peraturan Menteri Kelautan Perikanan No 5 tahun 2015 diterbitkan, yang membuat sejumlah nelayan kapal besar banyak yang berhenti melaut. Akibatnya pasokan ikan berkurang drastis.

“Dampaknya para pengusaha ikan belah ini kewalahan untuk memenuhi permintaan konsumen dari luar daerah,” ucap Marwan lagi.

Editor: Raymon