2 tahun lalu |19 April 2016 15:32 |1726 Pembaca

Oknum Kabag Kesra Sibolga Batal Didemo Warga Etnis Nias

Foto: Dialog antara tokoh etnis Nias dengan massa yang hendak berunjuk rasa, dimana akhirnya aksi itu disepakati batal digelar, Selasa (19/4). Mora/ST

SIBOLGA, SUARATAPANULI.COM – Rencana unjuk rasa ratusan warga etnis Nias ke Kantor Walikota Sibolga berhasil diredam, Selasa (19/4). Niat berdemonstrasi menuntut pertanggungjawaban dari ABL, oknum Kabag Kesra Pemko Sibolga, tersebut diurungkan setelah beberapa penatua dari etnis itu datang menemui massa di titik kumpul, di sekitaran Tugu Putri Runduk Jln Ade Irma Suryani, Simaremare.

“Kami bersama para penatua etnis Nias yang ada di Sibolga nanti akan memediasi untuk menyelesaikan persoalan ini. Dalam minggu ini kami akan memanggil pihak-pihak yang terkait masalah ini untuk dipertemukan mencari solusi terbaik,” kata Ketua HIMNI (Himpunan Masyarakat Nias Indonesia) Sibolga-Tapteng Junifati Ziliwu, usai berdialog dengan massa.

Kedatangan Junifati juga didampingi oleh penatua warga Nias Nurdin Zebua, dan Kamil Gulu yang juga dikenal sebagai mantan Anggota DPRD Sibolga.

Tadinya, unjuk rasa itu digelar untuk menuntut pertanggungjawaban ABL atas tindakannya yang mengatasnamakan dirinya sebagai ‘Ketua Etnis Nias’ di Sibolga. Kabarnya pengakuan itu dinyatakan ABL agar dirinya dihunjuk untuk menangani pagelaran malam seni dan budaya etnis Nias di peringatan Hari Jadi Kota Sibolga ke-316, akhir Maret lalu.

Padahal, menurut Binahati Ziliwu selaku koordinator aksi, menyatakan tidak ada yang namanya ‘Ketua Etnis Nias’ dimana pun, termasuk di Sibolga. Yang ada adalah organisasi perhimpunan masyarakat Nias atau yang dikenal sebutannya HIMNI. Sikap ABL itu lah yang dianggap tidak etis dan rentan menimbulkan perpecahan masyarakat etnis Nias.

“Dia mengambil alih pagelaran budaya etnis Nias saat Hari Jadi itu dengan mengatasnamakan sebagai ketua etnis Nias. Padahal yang ada itu HIMNI yang pengangkatan pengurusnya itu melalui proses adat istiadat. Makanya (tindakan ABL itu,red), seolah-olah tidak ada organisasi (HIMNI) yang jelas punya legalitas. Itu adalah cara-cara (diduga sebagai upaya) untuk menghilangkan organisasi yang sudah ada,” tandas Binahati.

Binahati kemudian menyatakan menerima saran dan masukan para penatua etnis yang datang menemui mereka. “Tadi mereka datang meminta tolong, bahwa masih ada cara-cara yang lebih elegan untuk menyelesaikan masalah ini. Saya selaku koordinator aksi tentu menghargainya, dan kami sepakat membatalkan aksi tersebut. Mari kita lihat bagaimana nanti hasilnya,” ucap Binahati.

Amatan Suara Tapanuli, sejumlah petugas kepolisian dan satpol PP sudah sempat berjaga untuk mengawal jalannya aksi, baik di lokasi titik kumpul massa maupun di depan Kantor Walikota Sibolga di Jalan Sutomo, Simaremare. Sementara oknum ABL belum berhasil dikonfirmasi terkait kebenaran tindakannya seperti apa yang ditudingkan oleh Binahati Ziliwu tadi.

Editor: Raymon