2 tahun lalu |22 April 2016 19:56 |1421 Pembaca

Rp81 Miliar Irigasi ‪Sitangkurak, Solusi Banjir di Kota Tua

Foto: Kadis PU Harmi Marpaung, Pelaksana Proyek Daulat Butar-butar, saat meninjau proyek DI Sitangkurak, di Siramiramian, Andam Dewi, Tapteng, kemarin. Dok/ST

TAPTENG, SUARATAPANULI.COM – Kota tua Barus, Kecamatan Barus, Tapteng diharapkan akan bebas dari bencana banjir. Sebab, proyek pembangunan Daerah Irigasi Sitangkurak di Desa Siramiramian, Kecamatan Andamdewi tengah dikerjakan.

Proyek senilai Rp81 miliar dari BBWS II Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU Pera itu telah memasuki proses penggalian tubuh bendung dan pembukaan akses jalan.

Pelaksana proyek PT Hariara asal Jakarta kini sedang mempersiapkan fasilitas dan peralatan pendukung di lokasi. Seperti basecamp, kantor, excavator 5 unit, bulldozer 1 unit, dump truck tronton 4 unit, truk cold diesel 5 unit, mixer truck 2 unit dan stone crusher 1 unit.

“Mobilisasi peralatan sudah stand by di lokasi. Saat ini progres kerja kita masih tahap penggalian tubuh bendung dan pembukaan akses jalan,” kata Daulat Butar-butar dari pihak pelaksana proyek saat Kadis PU Tapteng Harmi Marpaung dan staf memonitor pengerjaan proyek itu, Kamis (21/4).

Proyek ini disebut masuk ke dalam program vital dan strategis Pemkab Tapteng 2016 untuk meminimalisir banjir di daerah Barus, serta mengairi sekira 1.000 hektar lahan pertanian di Barus dan Andamdewi yang selama ini tadah hujan.

Pada tahap awal, fokus membangun bendungan. Sementara untuk saluran irigasi akan dikerjakan tahap berikutnya. Pengerjaan proyek itu dilaksanakan selama 750 hari terhitung 3 November 2015, dengan masa pemeliharaan 360 hari, sejak masa pelaksanaan selesai.

Lokasi bendungan Sitangkurak kini sudah dapat diakses dengan mudah, karena letaknya hanya 50 meter dari jalan nasional Barus-Manduamas. Pembangunannya juga tidak membutuhkan pembuatan diversion channel (saluran pengalihan), karena daerah aliran sungainya (DAS) yang luas dan dibangun tidak di daerah aliran air saat ini.

Kadis PU Tapteng Harmi Marpaung meminta pengerjaan proyek itu dapat diselesaikan tepat waktu. Bahkan kalau bisa lebih cepat dari masa pelaksanaan, sebab keahlian PT Hariara tak diragukan lagi.

“Kami terus memonitor pengerjaannya, jangan sampai ada kendala di lapangan, seperti pembebasan lahan, sehingga itu menjadi alasan kontraktor untuk memperlambat progres kerja,” kata Harmi.

Harmi juga berharap permasalahan pembebasan lahan warga di lapangan yang belum tuntas ganti ruginya agar segera diselesaikan. Hal itu diakui Kadis Pertanahan Tapteng Erwin Marpaung. Erwin membenarkan belum selesainya proses ganti rugi. Namun itu akan diselesaikan secepatnya.

“Kami masih memproses pembayaran lahan, butuh prosedur yang tepat supaya tidak ada permasalahan yang timbul ke depan,” sebut Erwin.

Erwin mengatakan, ada sebidang lahan yang diklaim oleh 2 pemilik, dan ada yang meminta harga yang tinggi tidak sesuai NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) Tetapi, lanjut Erwin, pihaknya akan mengundang warga yang kena dampak pembangunan itu pada 25 April 2016 nanti, untuk mensosialisasikan proses ganti rugi. “Pihak kontraktor juga turut kita undang,” pungkasnya.‬

Editor: Raymon