2 tahun lalu |23 Maret 2016 06:44 |1525 Pembaca

Sibolga Dibanjiri Ikan dari Luar

SIBOLGA, SUARATAPANULI.COM – Ikan asal luar daerah, seperti Belawan, Tanjung Balai dan Aceh dalam dua bulan terakhir ini terus membanjiri pasar ikan di Kota Sibolga. Padahal Sibolga sendiri dikenal sebagai salah satu sentral penghasil ikan terbesar di wilayah Sumatera Utara.

Menurunnya pasokan ikan asli dari Sibolga itu menurut sejumlah pelaku bisnis perikanan terlihat dari pengirim ikan dan pengolahan ikan kering. Kondisi itu diakui disebabkan oleh tidak beroperasinya lagi kapal-kapal Pukat Ikan (P-I) milik para pengusaha lokal. Lantaran terganjal dengan Permen Kementerian Kelautan Dan Perikanan (KKP) Nomor 2 Tahun 2015 menyangkut pelarangan penggunaan alat tangkap yang banyak dipakai kapal PI.
“Kebanyakan pelaku bisnis pengiriman ikan di Sibolga kini mendapat pasokan ikan dari Belawan dan Tanjung Balai,” aku Andi, salah satu pelaku bisnis pengiriman ikan di Sibolga yang mendapat pasokan ikan asal Belawan.

Terkadang kualitas ikan, seperti tongkol dan gambolo yang diterima dari Belawan pun kondisinya tidak begitu baik dan harganya pun kerap melambung. “Namun demi menutupi kebutuhan konsumen pasar di Pekan Baru, ikan dari Belawan ini pun terpaksa juga saya beli. Keuntungan bisnis semakin menipis,” ujarnya.

Terancam Gulung Tikar

Hampir serupa halnya dengan pelaku bisinis pengolahan ikan kering di Sibolga yang mengaku kesulitan untuk mendapatkan pasokan ikan dalam jumlah besar. Ikan yang biasanya diolah untuk menjadi ikan asin itu selama ini kebanyakan ikan hasil tangkapan dari PI. “Pasokan ikan yang akan diolah menurun drastis,” kata Irham, pebisnis pengolahan ikan kering di kawasan Pasar Belakang.

Kata dia, kondisi itu telah berulang kali disampaikan ke Pemko Sibolga. Tapi hingga kini tidak ada solusi pasti. Padahal bisa dikatakan para pelaku bisnis pengolahan ikan juga banyak pula memiliki hutang dalam menjalankan usaha. “Sudah pasti kita akan terancam gulung tikar, dan hutang pun bisa-bisa tak terbayarkan,” keluhnya.

Editor: Mora