2 tahun lalu |25 April 2016 08:16 |1112 Pembaca

Pupuk Langka, Petani di Sijamapolang Ikhlas Tak Panen

Foto: Tanaman kol di Siborboron, Sijamapolang, Humbahas yang dibiarkan pemiliknya tidak terawat kurang pupuk langka dan mahal. Oka/ST

HUMBAHAS, SUARATAPANULI.COM – Sejumlah petani sayur kol dan cabai merah di Desa Siborboron, Kecamatan Sijamapolang, Kabupaten Humbahas justru membiarkan tanamannya layu menguning begitu saja. Ternyata penyebabnya karena pupuk langka dan mahal, khususnya urea.

Pantauan di salah satu lahan pertanian warga, tanaman terlihat tidak tumbuh subur lantaran asupan pupuk yang tak mencukupi. Sulitnya memperoleh pupuk juga diakui petani berakibat masa panen terlambat, dan mutu menurun.

“Hasil penjualan sudah tidak seimbang dengan harga pupuk, daripada merugi dan buang-buang tenaga, lebih baik tanaman sayur ini dibiarkan begitu saja,” kata Ramot Simanullang salah seorang petani kol di daerah itu menjawab awak media ini, Minggu (24/4).

Langka dan mahalnya pupuk di pasaran telah terjadi beberapa bulan terakhir. Petani mesti menunggu pesanan satu hingga dua pekan untuk mendapatkan pupuk. Akibatnya tanaman terlambat dipupuk.

Senada disampaikan Riko L Simamora (32), juga petani sayuran. Ia menuturkan kondisi itu sudah dialaminya sejak Desember 2015 lalu. Katanya, ketika petani hendak membeli pupuk ke toko-toko pengecer, namun pengecer menyebut stok pupuk kosong.

“Pupuk yang paling sulit dicari belakangan ini adalah jenis urea. anaman yang kurang pupuk menjadi mudah terserang penyakit, sehingga tanaman menjadi rusak sebelum masa panen tiba. Atas kondisi ini kami petani hanya bisa pasrah,” terangnya.

Para petani berharap pemerintah daerah mengambil tindakan atas masalah pupuk. Pengawasan terhadap pengecer patut ditingkatkan, sebab petani curiga ada oknum tertentu yang bermain curang. “Mungkin penjual menimbun stok, dan ketika pupuk langka baru dijual dengan harga tinggi. Petani pasti butuh pupuk, apalagi yang bersubsidi,” tandasnya.

Kelangkaan itu diakui Amos, seorang penjual pupuk di Humbahas. Ia mengakui sudah beberapa bulan tidak menerima pasokan pupuk bersubsidi dari penyalur yang dihunjuk dinas terkait. “Banyak petani yang datang ke sini kecewa karena tidak ada pupuk,” katanya.

Editor: Mora