2 tahun lalu |25 April 2016 16:18 |2045 Pembaca

POTRET ANAK DESA TERPENCIL MERAIH CITA-CITA

Foto: Anak-anak Desa Aek Bottar, Tukka, Tapteng saat menyeberangi sungai untuk pergi ke sekolahnya. Harmen/ST

TAPTENG, SUARATAPANULI.COM – Bukan perkara mudah bagi anak-anak Desa Aek Bottar, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara untuk bersekolah. Mereka harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 10 kilometer menuju sekolahnya SMP Negeri 2 Satu Atap Tukka.

Tak hanya jarak, mereka juga harus melalui dua sungai dan hutan belantara yang dihuni binatang buas dan liar demi meraih cita-cita. Biasanya mereka berangkat dari rumah sekira pukul 06.00 WIB.

Nia Harefa, salah seorang pelajar menyebutkan, beban berat yang mereka hadapi tak menyurutkan semangat demi mendapatkan pendidikan. “Kami harus menempuh perjalanan yang jauh, berjalan kaki 10 kilometer dan juga harus melalui dua sungai yang berarus deras dan hutan belantara,” kata Nia, baru-baru ini.

Yang jadi masalah bagi mereka hanyalah jika turun hujan. Kalau cuaca sudah tidak bersahabat, mereka terpaksa tidak bersekolah. Sebab sungai yang kerap mereka lalui itu dipastikan meluap. “Kami takut menyeberang, nanti hanyut terseret derasnya arus sungai,” kata Nia diamini teman-temannya.

Untuk kelancaran selama perjalanan pergi dan pulang sekolah ke rumah masing-masing, mereka kerap menyimpankan sepatunya di bawah kolong sebuah rumah kosong yang tidak jauh lagi dari sekolahnya. Sepatu disimpan sementara agar tak basah dan rusak sewaktu melewati sungai dan jalan berlumpur.

“Makanya terkadang sepatu kami hilang dicuri orang,” tutur Nia.

Pihak sekolah sendiri memberikan toleransi waktu bagi siswa asal desa itu. Mengingat jarak tempuh yang meraka lalui untuk bersekolah sangat jauh. Biasanya anak-anak Desa Aek Bottar sampai di sekolah sekira pukul 08.00 WIB.

Itu berarti mereka membutuhkan sekira 2 jam perjalanan. Serupa dengan pulangnya, jika sekolah keluar sekira pukul 12.30 WIB, maka mereka baru tiba di rumah sekira pukul 15.00 WIB.

Selain anak sekolah, kesulitan akses jalan itu juga menghantui ratusan warga desa itu. Kondisi itu sudah dirasakan warga desa yang mayoritas pekebun karet itu sejak puluhan tahun. Warga enggan berpergian ke desa lain lantaran tidak adanya jembatan penghubung antar desa.

Warga desa itu berharap Pemkab Tapteng melalui instansi terkait turun ke desa mereka. Harapannya, mimpi menikmati akses jalan yang lebih memadai bisa terwujud.

“Setiap hari kami selalu khawatir kalau anak-anak pergi sekolah. Kami berharap pemerintah daerah membangun jalan yang lebih layak ke desa kami ini,” kata salah satu warga desa itu.

Editor: Raymon