1 tahun lalu |3 Mei 2016 16:47 |1296 Pembaca

Bayi Gizi Buruk di Tapteng, Beratnya hanya 5,7 Kg

Foto: Jesika Simatupang, pasien gizi buruk yang dirawat di RSUD Pandan, Tapteng, Selasa (3/5). Mora/ST

TAPTENG, SUARATAPANULI.COM – Kasihan melihat Jesika Simatupang terkulai lemah di Ruang Rawat Mawar RSUD Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng), Selasa (3/5). Usianya sudah 1 tahun 10 bulan, tapi berat badannya masih 5,7 kg.

“Sudah seminggu kami di rumahsakit ini,” ucap Roma Br Sinaga (20), ibunda Jesika, warga Rinabolak, Sijungkang, Kecamatan Andam Dewi, Tapteng.

Roma menceritakan, pada saat lahir, bobot Jesika 4 kg. Hingga usia 7 bulan, anak pertamanya itu masih sehat. Setelahnya baru Jesika mulai sering sakit-sakitan. Sejak itulah bobot badannya terus menurun. “Dia lahir 4 kg sehat. Dia mulai sakit sejak berumur 7 bulan,” katanya.

Kondisi ekonomi keluarganya memang tidak mampu memberi asupan gizi yang cukup untuk Jesika. Suaminya Sakdarius Simatupang (27) hanya seorang buruh sadap getah karet. Penghasilannya cuma berkisar Rp70 ribu seminggu. Sementara Roma hanya ibu rumahtangga biasa.

“Paling dapat Rp200 ribu seminggu, itu pun dibagi tiga. Saya gak kerja. Itulah dicukup-cukupkan untuk makan kami,” ujar Roma menitikan airmata.

Roma mengaku anaknya itu dibawa ke rumahsakit atas saran dari tetangganya. Mereka sendiri yang membawa Jesika ke rumahsakit milik pemerintah daerah itu. Padahal mereka sudah berulang kali berobat ke puskesmas di kampungnya, tapi tidak pernah dirujuk ke rumahsakit.

“Kami datang sendiri, memang pakai kartu peserta BPJS. Beberapa kali pernah berobat ke puskesmas, tapi kalau di puskesmas dikasih obat seadanya, itu pun malah tambah parah, muntah-muntah dia. Dan di puskesmas tidak ada di arahkan makanan yang bergizi,” kata Roma.

Roma mengakui selama seminggu dirawat di rumahsakit, kondisi Jesika membaik. Namun berat badannya belum kembali normal. Dia berharap anaknya yang belum bisa berdiri itu lebih sehat keluar dari rumahsakit. “Sejak di sini baru agak baikan dia. Dia rutin minum obat dan diperiksa dokter serta para perawat,” kata Roma sambil menyeka airmata di pipinya.

Jesika dan Ibunya Menangis Disambangi Bara JP

Foto: Koordinator Bara JP Sibolga-Tapteng Eddy Suriyanto (baju merah) saat menjenguk Jesika Simatupang, pasien gizi buruk yang dirawat di RSUD Pandan, Tapteng, Selasa (3/5). Mora/ST Foto: Koordinator Bara JP Sibolga-Tapteng Eddy Suriyanto (baju merah) saat menjenguk Jesika Simatupang, pasien gizi buruk yang dirawat di RSUD Pandan, Tapteng, Selasa (3/5). Mora/ST

Kabar tentang pasien gizi buruk di RSUD Pandan itu menyita perhatian Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP). Koordinator Bara JP Sibolga-Tapteng Eddy Suriyanto dan rombongan menjenguk bayi malang yang luput dari perhatian pemerintah itu.

“Ini indikator pelayanan kesehatan di Tapteng masih belum maksimal. Dimana peran petugas kesehatan yang ada di kecamatan. Kabarnya kami dengar Pemkab Tapteng ada membentuk ‘Tim Pemburu Orang Sakit’, dimana itu? Dinas Kesehatan Tapteng bagaimana? Kasihan kita melihat kondisi anak ini,” ucap Eddy.

Seraya memberikan sekedar uang santunan, Bang Edo, sapaan akrab Eddy Suriyanto, menyampaikan bahwa perawatan Jesika mesti diperhatikan secara serius oleh petugas medis rumahsakit. “Harusnya dia dirawat intensif di ruangan khusus. Ini kami lihat ditempatkan di ruangan rawat bangsal,” tandasnya.

Besok, Bang Edo menyatakan akan kembali datang menjenguk Jesika. “Kami akan terus pantau perkembangan anak ini. Saya benar-benar prihatin. Tadi begitu kami salami, ibu dan anaknya itu langsung menangis. Itu artinya keluarga ini memang sangat tidak mampu secara ekonomi,” pungkas Bang Edo.

Editor: Mora