1 tahun lalu |4 Mei 2016 20:06 |1174 Pembaca

Bah! Ratusan Pinus di Dolok Imun Mati Akibat Disadap

Foto: Pohon Pinus di hutan Dolok Imun, Sipoholon, Taput, yang disadap getahnya. Buea/ST

TAPUT, SUARATAPANULI.COM – Ratusan batang pohon pinus di hutan Dolok Imun, Kecamatan Sipoholon, Tapanuli Utara (Taput) kini mati mengering. Pantauan awak media bersama Kepala Desa Huta Raja Hasundutan di lokasi, menemukan pinus yang mati itu ada bekas penyadapan getah di batangnya.

Pohon pinus itu disadap getahnya dengan cara dikuak atau dicungkil dan dideres pada lapisan kulit batangnya. Batang pinus dikoak hingga sedalam 10 centimeter.

“Karena kondisi ini, kami khawatir areal ladang dan sawah yang ada di lereng Dolok Imun juga akan mengalami kekeringan,” ujar Kepala Desa Tarzan Situmeang.‬

Foto: Kepala Desa Huta Raja Hasundutan Tarzan Situmeang (tengah)‬. Buea/ST Foto: Kepala Desa Huta Raja Hasundutan Tarzan Situmeang (tengah)‬. Buea/ST

Dijelaskannya, areal perladangan dan sawah di desa mereka ada seluas sekitar 120 hektar. Dan mata pencarian utama warganya adalah bertani.‬ Karena itu, Tarzan meminta agar aktifitas penyadapan dihentikan. Sebab dampak negatifnya lebih besar dari pada manfaatnya.

“Dolok Imun adalah hutan adat milik leluhur kami, dan milik seluruh marga Raja Naipospos. Untuk itu izin kegiatan harus ada dan diketahui seluruh masyarakat desa,” tegas Tarzan.‬

Sabanudi Halao, seorang pekerja penyadapan ketika dijumpai awak media di hutan itu menjelaskan dirinya sudah  bekerja selama 2 tahun. Bersama 13 rekannya, Sabanudi menyadap dengan cara mengkuak dan menderes. Batang pinus yang mereka sadap rata-rata sudah setinggi 3 meter.

“Kemungkinan tahun depan kami sudah tidak bekerja lagi, karena hasilnya sudah sedikit.‬ Kami dipekerjakan oleh PT Inhutani. Dalam sebulan kami bisa menghasilkan sebanyak 4 ton getah,” tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Raja Naipospos Indonesia, Brigjen Pol Purn Parasian Simanungkalit menyatakan agar semua kegiatan penyadapan pohon pinus di hutan itu dihentikan. Selain karena di hutan itu ada Mual Raja Naipospos yang airnya dipergunakan masyarakat sekitar untuk keperluan kehidupan sehari-hari, penyadapan pun berdampak negatif terhadap ekosistim sekitar. Seperti terhadap ladang dan sawah masyarakat.

Ditegaskannya juga, kegiatan penyadapan getah pinus tidak boleh berlangsung di Hutan Dolok Imun jika tidak atas keputusan musyawarah mufakat pengurus punguan dan warga Naipospos yang ada di sekitarnya. Bila tidak diindahkan, punguan akan menggugat pihak yang melanggar.

Sementara itu berdasarkan informasi yang dihimpun, aktifitas penyadapan pinus baik oleh perorangan maupun perusahaan juga terjadi di hutan Kecamatan Pangaribuan dan Kecamatan Garoga, serta di hutan Kawasan Salib Kasih Kecamatan Siatasbarita, hutan Dolok Martimbang Kecamatan Tarutung, serta hutan Simanungkalit Desa Hutauruk, Kecamatan Sipoholon.

Selain PT Inhutani, ada juga oleh PT Global dan CV Parparean. Bisnis getah pinus memang sangat menjanjikan, pengepul sanggup membeli dari masyarakat dengan harga Rp4.000 per kilogramnya.‬

Editor: Mora