1 tahun lalu |10 Mei 2016 19:14 |1094 Pembaca

Petani Tapteng Panen Palawija dari Lahan Gambut dan Padsolid

Ilustrasi buah kacang tanah. Int

TAPTENG, SUARATAPANULI.COM – Petani di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) berhasil membuktikan program Penanganan Lahan Kritis dan Sumber Daya Air Berbasis Masyarakat (PLKSDA-BM). Lahan gambut dan tanah padsolid merah di Kecamatan Lumut, Kolang, Sibabangun, dan Sukabangun diolah sehingga dapat menghasilkan tanaman sela palawija berupa jagung dan kacang tanah.

Kepala Bappeda Tapteng Basyiri Nasution menyampaikan untuk jagung, petani di Kecamatan Kolang bisa menghasilkan kotor Rp14 juta per hektarnya. Dan untuk kacang tanah menghasilkan kotor Rp10 juta per hektarnya. Itu dicapai hanya dalam tempo 4 bulan.

Diperkirakan, untuk tanaman sela jagung produksinya sekitar 4 ton per hektar, dengan pendapatan kotor sekitar Rp14 juta per hektar dengan harga Jagung pipil Rp3.500 per kilogram. Sedangkan tanaman kacang tanah produksinya sekitar 0,5 ton per hektar dengan pendapatan kotor sekitar Rp10 juta dengan hitungan harga kacang tanah belum kupas Rp20.000 per kilogram.

Ilustrasi buah jagung. Ilustrasi buah jagung.

“Itu sesuai laporan yang kami terima. Hasil tersebut diperoleh jika pengelolaan dilakukan secara maksimal dan tepat. Walaupun  panen perdana ini belum mencapai hasil yang maksimal, tapi dengan pengalaman pada tanam pertama  ini dapat menjadi pembelajaran untuk  penanaman berikutnya,” ucap Basyiri.

Terobosan pada bidang pertanian itu lantas diapresiasi Bupati Tapteng Sukran Jamilan Tanjung. Kata bupati, itu membuktikan sebuah prospek yang menjanjikan. “Saya berharap hasil panen ini menjadi motivasi bagi petani atau kelompok tani,” ujar Bupati saat panen perdana jagung dan kacang tanah garapan Kelompok Tani di Desa Rawa Makmur, Kecamatan Kolang, Selasa (10/5).

Lebih rinci lokasi pelaksanaan program ini yang sukses diantaranya di Desa Aek Gambir, Kecamatan Lumut dengan lahan padsolid merah seluas 3,5 hektar, dikelola oleh Kelompok Tani Sihobuk. Tanaman utamanya durian, mangga dan rambutan, serta tanaman selanya jagung dan kacang tanah. Kelompok ini sudah ikut program tersebut sejak tahun 2013.

Kemudian, di Desa Mumbangboru Kecamatan Sibabangun. Lahannya tanah padsolid merah seluas 6,5 hektar. Dikelola oleh Kelompok Tani Satahi dan Makmur. Tanaman utamanya durian, mangga dan jeruk dengan tanaman sela jagung dan kacang tanah. Juga telah ikut program itu sejak tahun 2013.

Ketiga di Desa Pulo Pakkat II Kecamatan Sukabangun. Lahannya seluas 10 hektar yang merupakan lahan gambut. Dikelola oleh Kelompok Tani Rawa Makmur, dengan anggota 30 orang. Tanaman utamanya rambutan dan mangga, serta tanaman sela jagung dan  kacang tanah. Mereka pun sudah ikut program sejak tahun 2015.

Dan di Desa Rawa Makmur Kecamatan Kolang dengan lahan seluas 5 hektar lahan gambut. Dikelola oleh Kelompok Tani Suka Maju. Tanaman utamanya rambutan dan jeruk nipis, serta tanaman sela jagung dan kacang tanah. Mereka sudah mempedomani program itu sejak tahun 2015.

Maka totalnya sejak 2013-2016 sudah ada 10 ha tanah padsolid merah dan 15 Ha lahan gambut yang berhasil dibudidayakan di Tapteng. Untuk lahan gambut sendiri membutuhkan teknis tersendiri, mengingat tingkat keasamannya yang tinggi. Petani dibina oleh Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM), Penyuluh Lapangan (PPL), dan petugas Dinas Pertanian dan Peternakan. (rel)

Editor: Ray