1 tahun lalu |12 Mei 2016 10:47 |1307 Pembaca

Sarapan Pagi Unek-unek Penghuni Rusunawa Sibolga

Foto: Rekan Bang Edo Bara JP dan Freddy Situmorang berdialog dengan ibu-ibu penghuni Rusunawa Kota Sibolga di Jalan Merpati, Aek Manis, Sibolga Selatan, Rabu (12/5/2016) pagi. Marihot Simamora/ST

PANGGILAN dari ‘Bang Edo Bara JP’ di handphoneku memaksaku meninggalkan secangkir teh yang baru dihidangkan pelayan sebuah kedai kopi ternama di Kota Sibolga tempatku biasanya nongkrong. Hari itu Kamis (12/5/2016) sekira pukul 08.03 WIB. Kunci sepedamotor kuraih meluncur ke Rusunawa Sibolga di Jalan Merpati, Aek Manis, Sibolga Selatan.

Catatan: Marihot Simamora

Tiba di kompleks gedung pemukiman warga ekonomi lemah itu, Bang Edo, panggilan akrab Eddy Suriyanto Koordinator Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP), dan rekan jurnalis Freddy Situmorang, sudah berada di sana. Belasan ibu-ibu terlihat mengerumini kedua rekanku itu.

Kesan pertama ketika memasuki kompleks yang sudah setahun diresmikan itu adalah lingkungannya yang kotor. Banyak sampah berserakan di halamannya. Genangan air yang sudah berlumut di halaman depan dan paritnya. Cat gedungnya yang mulai kusam dan terkelupas. Keramik lantainya yang pecah-pecah dan seperti tak pernah dipel.

Di halaman gedung terlihat pemandangan yang cukup menarik yakni belasan tong plastik besar tempat air bersih berjajar. Memang beberapa bulan terakhir, penyaluran air bersih yang disediakan PDAM Tirta Nauli Sibolga ke rusunawa ini sudah macet. Begitu juga dengan aliran listrik dari PT PLN yang sempat diputus akibat pihak pengelola Rusunawa menunggak tagihan rekening.

Alhasil demi kebutuhan pasokan air bersih didrop pakai mobil tangki setiap hari. Bagi yang mau sedikit repot, penghuni terpaksa mengangkuti air bersih yang dipasok ke rumahnya masing-masing. Bagi yang malas, ya untuk mencuci kain dan piring memilih melakukannya di halaman gedung itu saja.

Melihat lebih dekat di lantai dasar gedung. Triplek penutup pipa saluran pembuangan air kotor pada sudut-sudut gedung banyak yang sudah rusak. Tetesan air bahkan mengucur dari lantai II yang merupakan langit-langit lantai I nya. Sejumlah ruangan di lantai I masih banyak yang kosong. Kondisi itu mengesankan sisi kekukmuhan. Beberapa jepretanku mengabadikan keadaan itu.

Kembali ke kerumunan kedua sahabatku tadi. Mereka lumayan riuh. Bayangkanlah bagaimana kalau kaum ibu-ibu berkumpul, saling tandas menyampaikan unek-uneknya masing-masing. Rata-rata mereka adalah istri nelayan tradisional, tukang becak bermotor, dan buruh serabutan. Identitasnya ada kami catat, hanya saja tak penting saya tuliskan di dalam catatan ini.

Umumnya ibu-ibu itu mengeluhkan ketidakadilan penyaluran berbagai bantuan pemerintah bagi rakyat ekonomi lemah. Seperti bantuan dana kelompok usaha bersama (Kube), bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM), beras miskin (raskin), bantuan langsung tunai (BLT), kartu perindungan sosial (KPS), kartu Indonesia sehat (KIS), kartu Indonesia pintar (KIP), dan program bantuan pemerintah lainnya.

Ada yang nyerocos menyebutkan keluarganya tidak pernah dapat salah satu bantuan itu. Padahal mereka sudah didata. Macam-macam, ada petugas pemerintah maupun pihak ketiga yang datang meminta fotokopy KK, KTP, pun sejumlah uang yang katanya untuk administrasi dan untuk pembukaan rekening di banklah, serta dalih lainnya. Tapi nyatanya bantuan dimaksud tak pernah mengucur kepadanya.

Ada pula yang mengutarakan kecemburuannya atas sikap petugas terkait yang mengutamakan keluarga dekatnya mendapatkan bantuan itu. Bahkan ada juga penerima bantuan yang sebenarnya ekonominya mampu. Seperti untuk raskin, Kube, dan KIP.

Tiba-tiba, ada pula seorang ibu-ibu paruh baya yang membisikkan ke saya bahwa penghuni rusunawa itu pun banyak yang atas backingan oknum-oknum tertentu. “Iya, aku kalau gak langsung tegas sama petugas pendata waktu pendaftaran itu, mungkin saya gak dapat,” katanya.

Satu jam bersama mereka. Kami merasa kenyang dengan sarapan pagi ini. Kondisi dan keluhan para penghuni rusunawa itu merupakan potret nyata kaum masyarakat kecil. Tidak untuk menyalahkan sepihak pemerintah, tapi persoalan yang terjadi di lapangan memang sangat kompleks. Program bantuan itu sesungguhnya bertujuan baik. Hanya saja pengelolaan dan penyalurannya yang belum tentu transparan dan tepat sasaran.

Editor: Raymon