2 tahun lalu |24 Maret 2016 09:02 |1420 Pembaca

KISAH PARA IBU PEMECAH BATU DI LUBUK AMPOLI TAPTENG

Foto: Ibu-ibu pemecah batu di Lubuk Ampoli,  Badiri, Tapteng. Ray/SUARATAPANULI.COM

TAPTENG, SUARATAPANULI.COM- Sinar matahari baru saja menyeruak ke permukaan bumi, namun bagi ibu-ibu warga Desa Lubuk Ampoli, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) adalah waktu yang tepat untuk mereka turun ke Sungai Hutabalang. Untuk apa mereka turun ke sungai dan bertarung melawan derasnya arus sungai?

“Kami sudah terbiasa, setiap pagi ke sungai cari batu meski arusnya deras. Yang penting keluarga bisa makan dan biaya sekolah anak tertutupi,” ujar Musidah Mendrofa, di tengah kesibukannya memilih batu di dasar sungai.

“Tapi kalau hujan, air sungai naik, kami gak berani kerja,” tegasnya lagi.

Tak hanya cuaca yang kerap menjadi musuh dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka, ada pula petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Pemkab Tapteng yang menjadi momok menakutkan bagi mereka. Sebab, petugas penegak peraturan daerah itu kerap melakukan razia penertiban aktifitas penambangan manual yang dianggap ilegal itu.

“Kalau sudah begitu (ada razia), kami mencari makan pun terganggu,” sebutnya.

Padahal, menurut ibu lima anak ini, ibu-ibu di desanya kebanyakan menjadikan mencari batu sebagai penopang hidup keluarga. “Tak ada kerjaan lain, lagi pula harga karet pun sedang turun,” ucapnya sembari memasukkan batu ke dalam keranjang untuk diangkut ke pinggir sungai.

Masih Musidah, batu-batu krikil yang telah dikumpulkan, nantinya akan kita dipecahkan dengan palu seberat 10 kilogram, hingga akhirnya berukuran kecil. “Per keranjangnya dijual seharga Rp1.500 hingga Rp3.000. Kan lumayan,” ujarnya seraya mulai memilah-milah batu yang akan dipecahkannya.

Dalam urusan memecahkan batu, tiga anaknya ikut membantu. “Biasanya sepulang sekolah mereka langsung ke sini,” terang Musidah.

Batu pecahan itu nanti dibeli oleh orang-orang proyek. Mereka datang seminggu dua kali. Namun, sebulan belakangan ini para pembeli sudah jarang datang. Tumpukan batu pun mulai menggunung.

“Mungkin karena pengerjaan proyek di Tapteng lagi sepinya. Kami berharap pengerjaan proyek kembali ramai, agar batu-batu kami cepat laku,” pungkasnya.

Editor: Mora