2 tahun lalu |24 Maret 2016 10:28 |1638 Pembaca

POTRET DESA TANPA LISTRIK & SARANA KESEHATAN DI TAPTENG

Foto: Suasana Desa Pandan Laut, Tapian Nauli, Tapteng yang belum tersentuh listrik dan layanan kesehatan. Ray/SuaraTapanuli.Com

TAPTENG, SUARATAPANULI.COM – Harapan agar pemerintah lebih serius mendongkrak kehidupan dan kesejahteraan rakyat sepertinya belum sepenuhnya dapat terwujud. Seperti keadaan di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) ini, lebih dari puluhan tahun lamanya warga Desa Pandan Laut, Kecamatan Tapian Nauli hidup tanpa bisa menikmati aliran listrik negara serta sarana kesehatan.

“Mungkin desa kami ini bukan termasuk wilayah Indonesia,” keluh Edi, warga desa itu, saat disambangi awak SuaraTapanuli.Com, kemarin.

Ironisnya pula, letak desa ini sebenarnya tak jauh dari PLTU Labuan Angin, salah satu pembangkit listrik milik PT PLN. Berada di pedalaman pinggiran pantai, membuat kondisi Desa berpenduduk lebih dari 90 jiwa ini menjadi terpencilkan.
Warganya mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional. Namun secara umum kondisi itu menjadikan desa ini semakin jauh dari kata sejahtera.
Warganya malah kerap merasa kalau desa mereka seperti dianak tirikan oleh Pemerintah daerah Tapteng. “Mungkin itu sudah nasib kami,” ungkap Edi lagi.

Untuk mendapatkan pasokan listrik, beberapa warga terpaksa masih bergantung terhadap listrik tenaga surya yang dihasil panel listrik. “Terbatas, biasanya hanya digunakan sebagai penerangan di malam hari saja,” kata Edi, seraya menambahkan jika cuaca buruk maka panel listrik tidak bisa berfungsi.

Sementara bagi warga yang tidak mampu membeli peralatan panel listrik, terpaksa hanya menggunakan lampu berbahan bakar minyak. “Pakai lampu teplok. Anak-anak juga belajar pakai lampu minyak itu,” sebut pria yang berprofesi sebagai nelayan ini.

Meski telah berulang kali mengajukan permohonan agar desa mereka dipasangi jaringan listrik ke Pemkab Tapteng dan PT PLN Wilayah Sibolga, namun hingga kini tak kunjung terealisasi. “Desa kami ini hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari PLTU Labuan Angin. Tapi rupanya letak bukan suatu jaminan untuk memperoleh aliran listrik,” keluhnya, diamini warga desanya yang lain.

ANDALKAN PENGOBATAN TRADISIONAL

Selain permasalahan listrik, warga desa itu juga sangat membutuhkan sarana kesehatan, seperti balai kesehatan atau puskesmas. “Sampai sekarang bangunan puskesmas saja kami tidak tahu bagaimana bentuknya,” tegas Saimah, satu dari puluhan ibu rumahtangga di desa itu.

Keterpurukan kehidupan warga desa ini semakin parah, tatkala petugas kesehatan dinas kesehatan kabupaten sama sekali tidak pernah berkunjung melayani warga, terutama bagi anak-anak dan ibu-ibu hamil. “Kami lebih sering berobat ke orang pintar (pengobatan tradisional) di sini,” ujar istri nelayan itu seraya berharap pemerintah daerah dapat segera menjawab keluhan mereka.

Editor: Mora