1 tahun lalu |22 Mei 2016 22:37 |1497 Pembaca

Petani di Humbahas Masih ‘Mambanting’

Foto: Petani di Humbahas yang masih 'mambanting' saat panen. Oka/ST
HUMBAHAS, SUARATAPANULI.COM – Petani padi di Kabupaten Humbahas sekarang sedang masa panen raya. Tapi ada kendala, dimana sebagian dari mereka terpaksa masih menganut metode panen tradisional. Istilah dalam bahasa daerahnya disebut ‘mambanting‘, yakni usaha memisahkan bulir padi dengan jerami.
Kendala itu diakui Edison Purba, salah satu petani di Desa Hutaraja, Kecamatan Doloksanggul. Katanya proses kerjanya jauh lebih lambat dibandingkan dengan menggunakan mesin perontok.”Saat seperti ini kami sangat butuh mesin perontok. Selama ini kami pakai cara manual itu, sehingga prosesnya menjadi lebih lambat,” ujarnya.

Peralatan panen konvensional itu memang sangat sederhana, tapi efisiensinya kalah dengan mesin. Terbuat dari kayu atau bambu. Bentuknya dibuat menyerupai meja dengan tinggi sekitar 80 cm dan lebar sekitar 60 cm. Bedanya dengan meja pada umumnya, setiap batang kayu atau bambu pada permukaan meja ‘mambanting’ ini diberi jarak sekira 3-5 cm. Jarak itu yang menjadi celah rontokan butir padi ketika segemgaman jerami yang baru dipotong dibantingkan ke meja tersebut. Di bawah meja itu dibentangkan terpal plastik untuk menampung butir padi.

Hal senada juga diakui Roida Simamora (37), juga petani. Katanya saat musim panen raya petani kerap kesulitan mencari pekerja panen. Padahal petani harus mengejar waktu. Sebab bila terlambat panen, padi akan rusak dan busuk. Selain waktu, ongkos kerja cara tradisional itu pun lebih besar.

“Kalau pakai mesin itu panen cepat. Sementara cara manual harus cari dan bayar 5-10 pekerja, dengan upah umumnya Rp70 ribu per orang per hari, padahal belum tentu sehari panen selesai,” ujarnya.

Petani berharap pemerintah daerah bisa membantu mereka dalam penyediaan bantuan mesin perontok modern yang lebih banyak lagi. Sehingga mereka tak harus terpaksa memilih cara tradisional, karena tak memungkinkan untuk menunggu giliran pemakaian mesin yang jumlahnya terbatas.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Humbahas H Silitonga mengakui jumlah mesin perontok padi di daerah itu masih terbatas. Namun pihaknya terus berupaya menambah bantuan bagi kelompok tani sesuai dengan potensi tiap desa.

“Terkadang terbentur dengan anggaran yang minim. Kami akan terus berupaya. Tapi kalau nanti sudah diberikan bantuan mesin, kami harap kelompok tani penerimanya benar-benar merawatnya,” ujarnya.

Editor: Mora