1 tahun lalu |25 Mei 2016 20:58 |971 Pembaca

Listrik di Nias Padam karena PLN Menunggak, Benarkah?

Foto: Selebaran berkop APR Energy yang menyatakan maaf kepada masyarakat Pulau Nias, Sumut, atas pemadaman listrik yang akan kembali dilakukan. Istimewa/ST

NIAS, SUARATAPANULI.COM – Masyarakat Pulau Nias, Sumut, kembali dibuat gusar dengan munculnya selebaran berkop surat American Power Rental (APR) Energy yang bertuliskan permintaan maaf karena akan kembali melakukan pemadaman listrik total dalam waktu dekat. Alasannya karena PT PLN (Persero) belum melunasi tunggakan pembayaran sewa PLTD Moawo dan Idanoi kepada perusahaan pemasok listrik asal Amerika itu. Benarkah?

Isu ini lantas menarik perhatian sejumlah tokoh yang selama ini peduli dengan kondisi energi di Nusantara. Salah satunya adalah Ramdani, Koordinator Investigasi Masyarakat Peduli Listrik (MPL).

“Sebelumnya diketahui bahwa PT PLN selalu membayar secara rutin setiap bulan. Ini kan miris. Dan jika menilik dari persoalan tersebut, lantas siapa sesungguhnya yang layak untuk disalahkan, supaya bisa diurai solusinya,” ujar Ramdani dengan nada balik bertanya, kepada wartawan di Medan, Rabu (25/5).

Menurutnya, beberapa personal dari PT PLN menyatakan bahwa pemadaman di Nias terjadi akibat perusahaan negara itu masih belum melunasi tunggakan kepada APR sebesar Rp8 miliar. Pun demikian, PT PLN tetap mengupayakan 17 genset sebagai pemasok listrik sementara.

“Kami ingin menyampaikan bahwa tidak perlu pihak APR dan PT PLN Nias saling silang sikut dan membela diri. Tidak perlu pula sampai harus menyebar-menyebar informasi berantai atau membagikan selebaran yang tidak tepat dan tidak pas. Karena itu bisa menyesatkan esensi hal yang terjadi,” ujarnya.

Di lain sisi, timbul kecurigaan bahwa sebagai perusahaan yang berbasis di Amerika, APR dibonceng kepentingan asing untuk memecah belah masyarakat di Nias. “Namun masyarakat tidak perlu terpancing provokasi ini, fokuslah dukung pemerintah mencari solusi,” ungkapnya.

“Masyarakat juga tidak perlu risau, karena kami yakin PT PLN pasti sudah mempersiapkan serangkaian langkah antisipatif, termasuk dengan penyediaan sumber energi lainnya,” tambahnya.

Terpisah, KRT Tohom Purba SH selaku Ketua Presidium Asosiasi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (Alperklinas) menyatakan bahwa di atas semua persoalan ini, baik APR maupun PT PLN harus mengutamakan kepentingan anak bangsa, dalam hal ini masyarakat di Kepulauan Nias.

“Cara-cara APR yang notabene pebisnis dengan menyebar isu tertulis kepada masyarakat bernada ancaman pemutusan pasokan listrik itu sangat kami sayangkan,” tegas Tohom saat dihubungi wartawan.

Menurut informasi yang didapatnya, sambung Tohom, justru pihak APR lah yang sengaja tidak memberikan invoice (tagihan) PLTD Sewa 10 MW Idanoi dan PLTD Sewa 10 MW Moawo.

“Tiga kali PT PLN Area Nias meminta supaya tagihan dikirimkan oleh APR, yakni pada 31 Maret, 20 April dan 4 Mei 2016. Namun di publik justru beredar isu bahwa PT PLN menolak untuk membayar tagihan,” ungkap pria yang baru-baru ini mengikuti Sidang Tahunan Fisuel Internasional di Maroko, Afrika Utara.

Katanya, dalam selebaran APR tersebut juga ada satu klausul yang ganjil, yaitu ‘Kami telah menawarkan untuk menjual pembangkit listrik kami di Nias kepada PLN’.

“Itu maksudnya apa. Jangan-jangan polemik ini skenario untuk keuntungan bisnis semata, dengan mengorbankan rakyat di Pulau Nias. Bayangkan, ratusan ribu orang harus berada dalam gelap gulita hanya gara-gara pihak tertentu ingin mendapatkan keuntungan dengan menjual mesin-mesinnya kepada PT PLN,” terangnya.

Alperklinas mengimbau masyarakat untuk menyikapi ancaman APR itu dengan berpikir kritis, namun logis. Alperklinas juga berkepentingan mengawal listrik di Nusantara menuju kondisi prima.

“Kami siap mendampingi masyarakat Pulau Nias mengawal penyelesaian polemik ini,” pungkasnya.

Sementara itu informasi yang beredar di masyarakat kelistrikan internasional, Sidang Majelis Umum Fisuel Internasional yang dihadiri peserta dari 30 negara akan diselenggarakan di Medan dengan Alperklinas sebagai tuan rumahnya. (ril)

 

Editor: Mora