1 tahun lalu |28 Mei 2016 11:24 |1519 Pembaca

Pentas Kreatifitas Siswa SD Santa Maria Tarutung

Foto: Anak-anak SD Santa Maria Tarutung, Tapanuli Utara saat bernyanyi lagu daerah dengan mengenakan baju adat beragam etnis di Pentas Kreatifitas, Sabtu (28/5). Buea/ST

TAPUT, SUARATAPANULI.COM – Pentas Kreatifitas SD Swasta Santa Maria Tarutung, Tapanuli Utara, kali ini mengusung tema “Pentas Satu Nusa Satu Bangsa”. Seluruh siswa mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 berpakaian adat beragam suku yang ada di Indonesia.

‪Pentas Kreatifitas yang melibatkan 752 siswa ini dilaksanakan di Gedung Serbaguna Tarutung, Sabtu (28/5). Diawali dengan pawai karnaval berjalan kaki dari sekolah menuju Gedung Serbaguna.‬ Mereka mengenakan pakaian adat Batak, Nias, Papua, Madura, Betawi, Banten, Sunda, Jawa Timur, Jawa Tengah, Madura, Minahasa, Maluku, Toraja, Timor, dan Aceh.‬ Sambil berjalan kaki mereka menyanyikan beberapa lagu daerah.

Setibanya di Gedung Serbaguna, para siswa menyanyikan lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’. Kemudian diselingi dengan bernyanyi lagu-lagu dan tari-tarian ragam budaya daerah.

‪Kepala Sekolah Renta Gurning menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan bakat dan potensi anak pada bidang seni dan merangsang kreatifitas yang positif. “Mendidik anak untuk berlaku positif secara bersama-sama dan mewujudkan program nasional yakni menciptakan masa depan anak Indonesia yang lebih cerah,” jelasnya.

‪Disebutnya, sekolah sengaja melibatkan seluruh siswa. Diharapkan ada kesan tersendiri bagi siswa, yakni mengenal beragam suku yang ada di Indonesia, terkhusus ciri khas suku pakaian adatnya dikenakan oleh masing-masing anak.

‪”Momen ini akan menjadi kenangan indah, terutama saat anak mengunjungi daerah, yakni daerah yang pakaian adatnya sudah pernah dipakainya, bahkan dipamerkannya,” ujar Kepala Sekolah.

Usai karnaval dan peragaan busana, puncak acara pentas kreatifitas ini menampilkan fragmen tentang seorang anak bernama Dani, yang merupakan penjual goreng pisang yang ingin bersekolah dan meraih cita-cita seperti anak-anak lainnya. Untuk dapat meraih itu semua, Dani pun harus menjual koran dan mengamen.

Kegiatan ini mendapat respon positif dari para orangtua siswa. Apalagi tak jarang ada saja momen lucu dan menggemaskan saat anak-anak bangsa itu tampil.

“Tentunya sangat bagus. Sambil belajar mengenal budaya bangsa, anak-anak juga diasah bakat dan dilatih mentalnya. Selain itu juga sangat menghibur, namanya juga anak-anak, ada saja yang tampil lucu dengan kepolosannya,” kata Br Sinaga, salah satu orangtua siswa.

 

Editor: Mora