1 tahun lalu |31 Mei 2016 11:59 |924 Pembaca

Burung Pipit Masih ‘Momok’ Bagi Petani di Tapteng

Foto: Areal persawahan di Lorong 6, Hutabalang, Badiri, Tapteng yang dikerudungi jala untuk menghalau serangan burung pipit. Mora/ST

TAPTENG, SUARATAPANULI.COM РBurung pipit masih menjadi momok bagi petani padi di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng). Orang-orangan sawah pun tak sanggup lagi menghalaunya. Petani beralih menggunakan jala.

Seperti pantauan di areal persawahan di Hutabalang, Kecamatan Badiri Tapteng. Padi yang mulai menguning tampak dikerudungi jala ikan yang biasanya dipakai nelayan.

“Kalau hanya pakai orang-orangan atau kaleng-kaleng, burungnya gak takut lagi. Makanya harus pakai jala sekalian, cuma memang belinya mahal,” kata Risman Halawa, petani setempat, kemarin.

Diceritakannya, burung pipit selalu bergerombolan datang ‘menyerang’. Kalau tidak dihalau, tak sedikit padi yang dimakaninya. “Ini karena musim tanam di kawasan ini tidak serentak. Ada yang panen duluan, jadi serangan burung lebih besar. Tapi kalau misalnya serentak tanam, panennya pun bersamaan, maka gerombolan burung tadi tak konsentrasi di satu areal saja,” kata Risman.

Ayah 3 anak itu mengaku panen kali ini bakal berhasil. Namun begitu keuntungan petani tetap tak bisa maksimal. Selain karena tingginya biaya produksi, pupuk dan pestisida, cuaca tak bersahabat juga kerap melanda. Ditambah lagi dengan harga jual yang tidak melonjak.

“Pertengahan Juni ini kami siap panen. Mudah-mudahan tidak ada kendala dan hasilnya memuaskan,” harapnya.

 

Editor: Raymon