2 tahun lalu |26 Maret 2016 08:15 |1368 Pembaca

LIBUR PANJANG, AIR TERJUN SIHOBUK PADAT PENGUNJUNG

Foto: Sensasi mandi-mandi di bawah jatuhan Air Terjun Sihobuk, Sarudik, Tapteng. Dok/SuaraTapanuli.Com

TAPTENG, SUARATAPANULI.COM- Memasuki hari kedua libur panjang Paskah, Sabtu (26/3), sejumlah objek wisata di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) terlihat ramai diserbu pengunjung. Salah satu yang paling ramai dikunjungi baik wisatawan lokal maupun luar dearah yakni Air Terjun Sihobuk, Sibuluan, Kecamatan Sarudik.

Meski lokasinya berada di kawasan perbukitan dan berjarak sekitar lima kilometer dari ibukota kabupaten, Pandan, namun objek wisata ini selalu menjadi salah satu tujuan favorit selain wisata pantai.

Tak hanya airnya yang sejuk dimandikan, kawasan wisata ini juga menawarkan panorama yang indah, sehingga membuat para pengunjung betah berlama-lama di lokasi. “Hawanya sejuk, apalagi lokasi ini dikelilingi pohon-pohon besar,” ucap Rio (34) pengunjung asal Kota Medan yang datang bersama keluarga besarnya.

Menurut Rio, debet air terjun Sihobuk pun sangat deras. Pengunjung kerap memanfaatkannya untuk merasakan sensasi lain. Dinginnya air juga memberikan daya tarik tersendiri bagi pengunjung,.

“Pijat air terjun sensasinya, ini jarang kita rasakan di objek wisata lainnya,” jelasnya seraya menambahkan keberadaan tiga kolam yang ada dengan ukuran kedalaman air yang berbeda juga dapat dimanfaatkan pengunjung yang membawa anak-anak.

“Hanya saja keamanan pada fasilitas yang kurang di lokasi ini. Kita harus jeli memperhatikan anak-anak yang bermain di dalam kolam,” timpalnya.

Lain hal yang diutarakan Rani, warga Kota Sibolga, yang berkunjung bersama keluarganya. Dia sedikit kecewa melihat kondisi objek wisata alam pegunungan ini. Menurutnya, Sihobuk atau juga dikenal dengan nama Sibuni-buni semakin kurang tertata. “Dulu masih baik penataannya, sekarang terlihat sembrawut,” jelasnya.

Selain itu, sambung Rani, setiap hari-hari libur seperti kali ini, biasanya selalu ada pertunjukan musik maupun hiburan lainnya. Namun sekarang sudah jarang. “Mungkin pengelola yang dulu lebih maju ketimbang sekarang,” tegasnya.

Editor: Mora