1 tahun lalu |2 Juni 2016 18:51 |1015 Pembaca

Ditentang Raja, Pangeran Badiri Bawa Lari Butet Si Gadis Desa

Foto: Pangeran Badiri bersama Butet, gadis desa pilihannya dalam Pementasan Petra 'Kerajaan Badiri'. Marihot Simamora/ST

SIAPA sangka jika Butet ditakdirkan untuk menjadi seorang Ratu di Kerajaan Badiri yang ada di Tapanuli Tengah. Kekuatan cinta Sang Pangeran kepadanya tak teruntuhkan oleh tentangan keras dari Raja dan Ratu.

Kisah ini dimulai dari kerinduan Raja dan Ratu Badiri untuk segera menimang cucu yang imut dan cantik seperti Sang Ratu. “Ya, seperti kecantikan Ratuku ini,” tutur Baginda Raja kepada istrinya.

Kemudian diputuskan kerajaan akan mengadakan sayembara mencari pendamping hidup putra semata wayang mereka, Pangeran Badiri. Pengumuman itu pun disebarkan ke seluruh pelosok negeri di sekitaran wilayah kerajaan di pesisir pantai barat Pulau Sumatera itu.

Tibalah hari yang sudah ditentukan. Beberapa putri dari kerajaan tetangga serta para gadis berduyun-duyun mengikuti sayembara. Salah satunya ada Butet, si gadis desa yang polos berpenampilan begitu sederhana tapi sangat baik hatinya. Dari status keluarganya, Butet memang hanya rakyat jelata. Ayahnya bahkan seorang pengangguran dan hobi mabuk dan mengacau di kampungnya. Ibunya pun hanya seorang perempuan kampung yang bahkan tidak memiliki perhiasan berharga di tangannya.┬áButet ikut sayembara itu setelah sebelumnya dikabarkan dan didorong oleh paribannya, si Ucok, yang merupakan sosok yang kocak dan ‘bocor’.

Satu per satu peserta ajang pemilihan calon ratu itu kemudian tampil unjuk kecantikan. Banyak yang memang cantik dengan bodi aduhai. Tapi belum ada yang cocok di hati Pangeran. Hingga akhirnya Pangeran terpana akan paras manis Butet yang dibalut oleh pesona kesederhanaan dan kerendahan hatinya.

“Ananda pilih dia,” kata Pangeran sambil mendekati dan memegang tangan Butet.

Tapi, raut wajah Raja dan Ratu seketika berubah masam. Mereka rupanya tidak setuju dan menentang pilihan putranya itu. Raja dan Ratu bahkan mencoba memaksakan pilihannya, yang menurut mereka adalah tercantik dari antara seluruh gadis peserta sayembara itu. Namun Pangeran tak goyah dengan pilihannya. Bahkan Pangeran tampan dan gagah berani itu balik menentang kedua orangtuanya.

“Lihat dia, pakaiannya kotor dan lusuh begitu, dan dia tidak sederajad dengan kita,” tandas Ratu.

“Baiklah, kalau Baginda Raja dan Ratu tidak setuju, maka kami lebih baik pergi dari kerajaan ini,” kata Sang Pangeran sambil menarik tangan Butet dan pergi bergegas.

Pangeran bahkan tak menghiraukan tangisan ibundanya yang meminta putranya itu agar tidak pergi. Pangeran dan Butet terus saja berlalu, keduanya kabur ke Pulau Putri di perairan Pulau Mursala.

Namun seiring waktu, kekerasan hati Ratu dan Raja Badiri yang tersohor itu akhirnya luluh juga. Pangeran dan Butet diperintahkan untuk dicari dan dibawa kembali ke kerajaan. Raja dan Ratu pun memberi restu atas cinta Pangeran dan gadis pilihannya. Mereka bahkan dinikahkan dengan perayaan yang super meriah di Pantai Bosur Pandan. Setelah dipersunting Pangeran, Butet kemudian dikenal dengan gelar Putri Lopian. Mereka hidup bahagia hingga ajal menjemput.

Kisah ini benar adanya dalam Pementasan Pertunjukan Rakyat (Petra) Media Tradisional oleh Diskominfo Sumut yang dilakonkan anak-anak SMA Negeri 1 Matauli Pandan, Tapanuli Tengah (Tapteng), di panggung Ruang Visual Sekolah, Kamis (2/6).

Petra ini sengaja mengadopsi kisah cerita rakyat lokal dengan judul “Kerajaan Badiri”. Meski pementasannya terbilang sederhana, namun drama singkat ini sangat menghibur karena dibumbui dengan dialog-dialog nan kocak yang mengocok perut.

“Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini dan ke depan hendaknya jangan membuat kita mengabaikan kegiatan seni dan budaya masyarakat yang memiliki nilai-nilai tradisional yang tinggi,” pesan Kadis Kominfo Sumut Jumsadi Damanik melaui Plh Kadis Evi Jarnita saat membuka pertunjukan itu.

Hadir dan ikut menonton, Bupati Tapteng diwakili Kadishubinfokom Tapteng Erman S Lubis, Ketua FKPPI Tapteng Harmi Marpaung, Ketua Labasinar Tapteng Abdul Rahman Sibuea, sejumlah kepala sekolah, penggiat seni dan budaya lokal, serta para pelajar.

 

Editor: Raymon