1 tahun lalu |3 Juni 2016 16:53 |825 Pembaca

“Membangkitkan Batang (yang) Terendam”

Foto: Pementasan Pertunjukan Rakyat Media Tradisional oleh Dinas Kominfo Provsu yang dilakoni siswa SMA Matauli Pandan, Tapteng. Marihot Simamora/ST

TAPTENG, SUARATAPANULI.COM РKesenian tradisional seperti pertunjukan rakyat (petra) kian merosot. Dikhawatirkan dalam satu dasawarsa lagi, kesenian tradisional akan kehilangan penonton, bahkan pewaris aktifitasnya.

Hal itu diungkapkan Kadis Kominfo Provsu Jumsadi Damanik saat membuka Pementasan Petra Media Tradisional bertajuk “Kerajaan Badiri” di SMA Negeri 1 (Plus) Matauli Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, kemarin.

“Apresiasi masyarakat, terutama kaum muda terhadap kesenian tradisional atau pertunjukan rakyat terindikasi telah merosot,” kata Jumsadi Damanik yang diwakili Plh Kadis Evi Jarnita.

Penyebabnya, sambungnya, kalah bersaing dengan berbagai jenis seni pertujukan modern. Pun dengan kehadiran teknologi komunikasi modern seperti televisi, VCD, internet dan lainnya. Itu semua membuat orang enggan pergi ke tanah lapang atau gedung kesenian untuk menonton pertunjukan rakyat.

“Bahkan lebih ironis lagi, masyarakat perkotaan sudah merasa turun gengsinya kalau menggemari pertunjukan rakyat bernuansa tradisional. Diakui atau tidak, pertunjukan tradisional sudah menjadi korban perubahan selera publik,” katanya.

Padahal, menurutnya seni petra berfungsi strategis dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, seperti sebagai alat pendidikan masyarakat, media perjuangan dan kritik sosial, juga sebagai media pembangunan dan komunikasi.

Jumsadi Damanik mengakui, pemerintah dan pemangku amanah kesenian tradisional harus berinovasi dan menciptakan terobosan. Misalnya dengan mengemasnya sesuai selera publik pada zamannya, tanpa menghilangkan nilai-nilai ketradisionalannya.

“Kata kuncinya pada para seniman dan pewarisnya kesenian itu sendiri. Diperlukan seniman pertunjukan rakyat yang jenius dan punya sistim jaringan komunikasi modern yang kompetitif,” paparnya.

Menurutnya masih ada harapan. Sebab di sisi lain, dengan banyaknya fenomena sosial saat ini, masyarakat sesungguhnya justru merindukan untuk kembali pada nilai-nilai subtansial yang bernuansa budaya tradisional.

“Kami tetap gembira karena para seniman di Sumatera Utara sangat menyadari hal ini. Sehingga mereka masih terpanggil untuk kembali menghidupkan komponen-komponen seniman media tradisional di tiap daerah, tekadnya kuat, yakni “Membangkitkan Batang Terendam“,” pungkas Jumsadi.

 
Editor: Raymon