2 tahun lalu |26 Maret 2016 08:42 |1673 Pembaca

SIBOLGA BELUM PUNYA ICON REPRESENTASI JULUKAN DAERAH

Foto: Kawasan perbukitan Panomboman, Sibolga Ilir, Sibolga Utara, tepatnya di atas Mapolsek Sibolga Utara.

 

SIBOLGA, SUARATAPANULI.COM- BANDAR kecil itu terus berkembang menjadi sebuah kota pelabuhan yang padat. Potensi industri niaga perikanan kelautannya bak magnet. Ragam suku, ras, dan agama datang dan berdiam di sini. Itulah Sibolga, ‘Negeri Berbilang Kaum, Perekat Antar Umat Beragama’.

JULUKAN kepada kota yang telah berumur 316 tahun itu melekat sejak tahun 2003 lalu. Adalah mantan Gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin pencetusnya. Julukan itu diberikan Tengku Rizal saat menghadiri salah satu kegiatan keagamaan tingkat provinsi yang dihelat di Sibolga. Rupanya dia kagum dan bangga karena kesuksesan acara itu tak terlepas dari kokohnya pondasi harmonisasi kemajemukan masyarakat kota ini. Itu dibuktikan dengan peran serta elemen lintas agama dalam perhelatan tersebut.

Memang, sebanyak 95 ribu jiwa penduduk Sibolga seperti miniatur Indonesia. Di antaranya ada etnis Batak, Pesisir, Tionghoa, Jawa, Bugis, Melayu, India, Nias, Minang, Aceh, Madura, Sunda, Ambon, dan lainnya. Kebhinekaan itu senantiasa hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Buktinya dapat dilihat melalui kegiatan kedaerahan, contohnya di setiap peringatan hari jadi daerah yang juga menggelar pawai mobil hias dan malam kesenian multi etnis.

Pemerhati pembangunan dan kemasyarakatan di Sibolga Binsar Simatupang menyebutkan, hingga kini julukan itu melekat bak perangko. Pemerintah daerah dan segenap elemen masyarakat pun merasa bangga memillikinya. Bahkan motto itu menjadi filosofi visi misi pembangunan daerah sejak satu dekade terakhir. “Julukan itu memang sangat tepat serta memiliki makna filosofis yang begitu kuat,” tutur Binsar.

Menurut Binsar, semboyan itu sebaiknya dipertahankan. Bahkan kalau bisa dipatenkan dengan sebuah peraturan daerah (perda). Supaya kemudian perda itu dapat menjadi acuan program pembangunan ke depan. “Bisa saja dipatenkan dengan pembentukan sebuah perda inisiatif oleh DPRD,” usulnya.

Binsar juga berharap suatu hari nanti Pemko Sibolga dapat menciptakan sebuah icon spot representatif dari julukan daerah itu. Seperti halnya daerah-daerah lain. Sebut saja contohnya Tapanuli Tengah dengan Pulau Mursala-Pantai Bosur-Makam Kunonya, Tapanuli Utara dengan Salib Kasih, Dairi dengan Taman Iman, dan banyak daerah lainnya.

Konsep serupa juga memungkinkan dibangun di lahan milik pemerintah daerah. Salah satu lokasi potensialnya di Panomboman, Kelurahan Sibolga Ilir, Kecamatan Sibolga Utara, tepatnya diatas Mapolsek Sibolga Utara. Lahan itu sangat strategis dengan landscapemenghadap ke Teluk Tapian Nauli yang mempesona.

Mantan Anggota DPRD Sibolga itu yakin, pemimpin daerah yang baru saja terpilih kembali di Pilkada 9 Desember lalu juga dapat menangkap dan memahami kerinduan masyarakat tersebut. “Saya pikir masyarakat Sibolga juga punya kerinduan memilikiicon daerah seperti di daerah lain. Bayangkan kita punya suatu kawasan objek wisata yang merupakan miniatur representasi dari beragam etnis, agama, serta adat dan budaya yang ada di Sibolga ini,” ujar Binsar.

Editor: Ray T