1 tahun lalu |8 Juni 2016 18:42 |1169 Pembaca

Semur Jengkol dan Risol Terlaris di Ramadhan Fair Sibolga

Foto: Halimah dan rekannya menjual beragam penganan di Ramadhan Fair Sibolga, di Jln Kapten Tandean-Jln Thamrin, Kota Baringin, Rabu (8/6/2016). Marihot Simamora/ST

SIBOLGA,¬†SUARATAPANULI.COM¬†–¬†Ternyata risol dan sate semur jengkol yang merupakan penganan paling laris di Ramadhan Fair Kota Sibolga, di perempatan Jalan Thamrin-Jalan Kapten Tandean, Kelurahan Kota Baringin, Kecamatan Sibolga Kota. Harganya murah, membuatnya pun tak sulit, dan tentu rasanya sudah akrab di lidah.

“Paling laris itu risol, martabak, pokpia. Rata-rata sebuah itu harganya Rp2.000,” kata Halimah dan Pak Ridwan, pedagang jajanan di pasar temporer yang digelar selama bulan suci Ramadhan tersebut, Rabu (8/6/2016).

Senada diungkapkan pedagang serupa, Masdar, yang juga dikenal sebagai Kepling III Kelurahan setempat. Dimana pelanggannya paling banyak membeli sate semur jengkol, risol, pastel mie, dan es buah. “Paling laku itu semur jengkol dan risol, terus pastel mie dan es buah,” kata Masdar, diamini pedagang di lapak sebelahnya Ade Fitrianti.

Foto: Masdar Kepling III yang menjual beragam penganan di Ramadhan Fair Sibolga, di Jln Kapten Tandean-Jln Thamrin, Kota Baringin, Rabu (8/6/2016). Marihot Simamora/ST Foto: Masdar Kepling III yang menjual beragam penganan di Ramadhan Fair Sibolga, di Jln Kapten Tandean-Jln Thamrin, Kota Baringin, Rabu (8/6/2016). Marihot Simamora/ST

 

Selain dari jenis penganan yang sudah merakyat itu, para pedagang juga menjajakan kue lapis, kue mangkuk, bubur kacang hijau dan pulut hitam, kue ade, donat, lupis, sate kerang, sate telur puyuh, onde-onde, lepat, es popai, bubur kacang hijau, kue putri mandi, ikan pepes (pale), mie tek-tek dan goreng, kue bolu, air kelapa muda, es cendol, manisan kurma, lauk ikan dan daging ayam, pecal, lemang, tahu isi, agar-agar, dan penganan lainnya. Harganya terbilang ekonomis, sepotong atau sebungkusnya antara Rp1.000-Rp5.000.

“Kalau khas Sibolga sendiri ada, seperti kue ade, wajik, mie tek-tek, onde-onde, daun ubi tumbuk santan, bongkol, dan urap,” timpal Halimah lagi.

Perempuan berhijab itu mengaku omzet penjualannya sehari bisa mencapai Rp2,5 juta-Rp3 juta. Mereka buka mulai sekira pukul 15.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Meski tidak ada retribusi lapak, tapi setiap pedagang wajib membayar retribusi kebersihan Rp3.000 setiap hari.

Halimah juga menyatakan kebanyakan penganan yang dijualnya itu adalah titipan dari pengerajinnya. Meskipun pedagang lainnya ada juga yang menjajakan hasil buatan sendiri.

“Kalau kami banyak titipan ini, kalau laku kami dapat komisi Rp200 sampai Rp500 per potong. Ya, semacam joint-lah, mereka yang buat, kami yang jualkan,” terangnya.

Salah satu pembeli, Ade Aulia Harahap (24), mengaku senang datang ke pusat jajanan musiman itu. “Ramai ya, tiap hari sejak dibuka selalu ramai pembeli. Kami beli makanan sambil menunggu berbuka,” kata Aulia sambil menunjukkan beberapa jenis penganan yang baru dibelinya.

 

Editor: Raymon