1 tahun lalu |9 Juni 2016 13:20 |6499 Pembaca

Ini Kronologis Penanganan Pasien Angeline Versi RSUD Pandan

Foto: Jasad Angeline Simanjuntak (13) saat akan dibawa ke rumah duka. Istimewa/ST
TAPTENG, SUARATAPANULI.COM – Kematian pasien usus buntu, Angeline Simanjuntak (14), warga Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut, yang ditangani RSUD Pandan menuai kontroversi. Namun pihak RSUD membantah tudingan adanya dugaan malapraktek dalam penanganan medisnya.

Berikut petikan wawancara SuaraTapanuli.Com dengan Direktur RSUD Pandan dr Sempakata Kaban melalui Sekretarisnya Jongga Hutapea, Kamis (9/6/2016) siang. Dipaparkan Jongga, awalnya pasien Angeline dibawa pihak keluarganya ke RSUD Pandan pada Senin (6/6/2016) pagi. Dia dibawa ke bagian anak karena usianya yang masih kategori anak. Lalu ditangani oleh dokter spesialis anak, dr Fadli. Keluhannya demam dan sakit di perut.

“Karena keluhan sakit di perut itu, dia (dr Fadli) kemudian mengkonsultasikannya ke dokter spesialis bedah. Kemudian spesialis bedah melakukan pemeriksaan laboratorium dan sebagainya. Maka pada hari Senin (6/6/2016) sore itu juga dilakukan operasi. Ternyata sakitnya bukan lagi sekedar usus buntu, tapi sudah lebih parah dari itu. Hingga dokter memutuskan untuk melakukan operasi ‘laparatomi’ (membuka abdomen/bagian perut). Operasi itu dilakukan dokter bedah bersama dokter spesialis anastesi, untuk membersihkan nanah yang sudah menyebar di seluruh area perut pasien,” terang Jongga.

Setelah operasi itu berhasil tanpa ada gejala-gejala mencurigakan, pasien dibawa ke ICU untuk perawatan intensif. “Setelah operasi itu tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan,” ujar Jongga.

Lalu, pada Selasa (7/6/2016), pasien mengalami gangguan pernafasan, gejalanya sesak. Maka dokter bedah kemudian membawa Angeline ke kamar bedah, untuk menjalani operasi kedua, dengan membuka jahitan operasi pertama. Tujuannya untuk membersihkan semacam cairan yang mengganggu saluran sistim pernafasannya.

“Ternyata hasilnya bagus (operasi kedua), kondisinya membaik pada saat itu. Maka setelah itu pasien dibawa kembali ke ICU,” jelas Jongga.

Hingga kemudian pada Rabu (8/6/2016) tengah malam, Angeline kritis dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Disamping itu, tambah Jongga, menurut keluarga pasien kepada dokter bedah pada saat sebelum operasi pertama dan kedua dilakukan, bahwa Angeline sudah 3 minggu mengalami demam dan sakit perut. Tapi dia hanya dirawat keluarga di kampungnya. Dan pengakuan orangtua pasien, bahwa anaknya itu sudah beberapa kali diurut, khususnya pada bagian perutnya.

“Jadi pradugaannya, sebenarnya kalau perut itu tdk boleh sembarangan diurut kalau sakit, jadi ini infeksi yang sudah meluas dan kena semua, itulah penyebabnya. Dan itulah nasibnya pasien tersebut akhirnya meninggal dunia seperti itu,” ucapnya.

Jongga menyebutkan bahwa dari hasil investigasi internal terhadap tim dokter yang menangani pasien, mereka sudah menjalankan penanganan medis sesuai SOP (standar operasional prosedur). “Operasi dilakukan sudah sesuai SOP, ada dokter bedah, dokter anastesi dan spesialis anak,” ucap Jongga.

Lalu, pada saat itu kenapa pasien tidak dirujuk?

“Jika dirujuk ke rumah sakit lain, analisisnya itu mungkin akan semakin mempercepat (kematian korban). Dan dokter kita sebenarnya sudah biasa melakukan seperti itu (operasi laparotomi). Cuma itulah nasib anak ini, kami pun turut menyanyangkannya,” kata Jongga.

Sementara hingga Kamis (9/6/2016), pihak RSUD Pandan belum ada menerima pernyataan keberatan atau pun pengaduan dari pihak keluarga almarhum pasien Angeline. Justru pihak lain di luar keluarga yang ramai menanyakan perihal kejadian tersebut.

“Kalau gugatan dari pihak keluarga sampai saat ini tidak ada. Tapi dari pihak lain yang justru datang menanyakan. Jd tadi kami bersama Pak Direktur sudah ada pertemuan dengan beberapa rekan media dan LSM pemerhati rumah sakit terkait hal ini, dan sudah kami jelaskan,” pungkas Jongga seraya juga menyangkan postingan nitizen di facebook terkait kematian almarhum.

 
Editor: Mora