1 tahun lalu |9 Juni 2016 20:12 |3253 Pembaca

Pesan Angeline: Mama Jangan Menangis Ya

Foto: Jasad Angeline Simanjuntak ditangisi salah satu kakaknya saat disemayamkan di rumah duka di Pinangsori, Tapanuli Tengah, Sumut, Kamis (9/6). Istimewa/ST

TAPTENG,¬†SUARATAPANULI.COM¬†– Sebelum meninggal dunia, Angeline Boru Simanjuntak (14), sempat berpesan kepada ibunya Junsaris Neri Boru Sitinjak (46). Pesannya “Mamak (Mama) jangan menangis ya”.

“Ya, dia (Angeline) sempat bilang; Mamak jangan menangis ya. Itu yang dia bilang sama mamaknya saat dia sempat sadar dari kritisnya. Itu kata mamaknya tadi,” ucap seorang perempuan berusia 40-an yang merupakan kerabat keluarga almarhum Angeline, di Mapolres Tapanuli Tengah, Kamis (9/6).

Ternyata itu merupakan ucapan perpisahan terakhir dari siswi kelas VIII SMP Negeri 1 Pinangsori yang berparas manis itu kepada ibunya. Sementara sang ibu, tampak lemah, bahkan sempat terbaring saat membuat laporan pengaduan di Mapolres.

Foto: Junsaris Neri Br Sitinjak (tengah), ibunda Angeline Simanjuntak dipapah saat datang ke Mapolres Tapanuli Tengah, Kamis (9/6). Marihot Simamora/ST Foto: Junsaris Neri Br Sitinjak (tengah), ibunda Angeline Simanjuntak dipapah saat datang ke Mapolres Tapanuli Tengah, Kamis (9/6). Marihot Simamora/ST

 

Sekilas soal sosok almarhum. Angeline merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara, semua perempuan. Ia ditinggal mati ayahnya almarhum Jonni Simanjuntak, saat masih berusia 3 bulan. Semasa hidup ayahnya merupakan seorang tukang bangunan.

Sepeninggal ayahnya, Angeline dirawat dan dibesarkan oleh ibunya sebagai single parent. Junsaris Neri Boru Sitinjak sendiri merupakan seorang pedagang ikan asin di pasar-pasar tradisional di sekitaran tempat tinggalnya di Jalan Padangsidimpuan, Lingkungan I Hutabuntul Nauli, Kelurahan Pinangsori, Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Angeline meninggal dunia pada Rabu (8/6) malam pasca dua kali menjalani operasi infeksi usus buntu akut di RSUD Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, pada Senin (6/6) dan Selasa (7/6).

Kematian Angeline sontak menuai perhatian dan keprihatinan publik setelah foto-foto bekas sayatan operasi itu diposting di media sosial facebook sejak Kamis (9/6). Pada foto itu (di berita sebelumnya,red) tampak sayatan bekas operasi Angeline memanjang sekitar 50 centimeter dari bawah perut hingga ke tulang rusuk dadanya. Pada kiri dan kanan perutnya juga terdapat bekas sayatan kecil.

Sontak saja publik menuding kasus kematian gadis remaja yang dikenal sebagai sosok yang periang, pintar dan hobi menyanyi ini diduga korban malapraktek. Apalagi setelah melihat bekas sayatan operasinya.

Namun pihak RSUD Pandan membantah dokternya telah melakukan kesalahan ataupun malapraktek dalam penanganan medis Angeline. Direktur RSUD Pandan Sempakata Kaban melalui Sekretarisnya Jongga Hutapea menyebutkan observasi dan operasi pasien Angeline sudah sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur).

Namun kemudian pihak keluarga almarhum menyatakan keberatan serta menduga ada kejanggalan, lalu mengadukannya ke Polres setempat dengan bukti STTL Nomor: STTL/96/VI/2016/SU/RES TAPTENG tertanggal 9 Juni 2016, atas pelanggaran undang-undang praktik kedokteran, atau lebih tepatnya Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

Karena kasus ini sudah ditangani hukum, jasad Angeline yang tadinya akan dikebumikan besok (Jumat, 10/6), lantas diputuskan dibawa ke RS Brimob Medan untuk diotopsi demi kepentingan penyelidikan, pada Kamis (9/6) malam.

 

Editor: Mora