1 tahun lalu |9 Juni 2016 22:01 |3708 Pembaca

Ini Penjelasan Konkrit Direktur RSUD Pandan Terkait Kasus Angeline

Foto: Tandatangan dan stempel resmi surat penjelasan informasi dari dr Sempakata Kaban selaku Direktur RSUD Pandan, Tapanuli Tengah. IST/ST

TAPTENG, SUARATAPANULI.COM – Direktur RSUD Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut, dr Sempakata Kaban, menyampaikan surat penjelasan informasi konkrit terkait pelayanan dan penanganan medis terhadap pasien Angeline Simanjuntak (14), yang akhirnya meninggal dunia usai menjalani operasi infeksi usus buntu akut pada Rabu (8/6) malam. Berikut ini petikan press release yang dikirimkan ke email redaksi SuaraTapanuli.Com, tertanggal Kamis 9 Juni 2016.

Kami terangkan sebagai berikut;

1. Hari Jumat, 3 Juni 2016 pukul 10.30 WIB, Angeline Simanjuntak (pasien) bersama orangtuanya datang ke RSUD Pandan untuk mendapatkan pelayanan di Poliklinik Anak. Setelah dr Fadly Syaputra SpA menangani pasien dengan diagnosa akut abdomen ec peritonitis + appendicitis dan mendapat perawatan di Ruang Mawar (ruang anak).

2. Selanjutnya dr Fadly Syahputra SpA melakukan konsul dengan dr Nesril (Resident Senior Bedah) dari FK USU Medan pada hari Sabtu 4 Juni 2016, maka dokter bedah melakukan anamnese dan pemeriksaan pendukung, antara lain pemeriksaan laboratorium dan radiologi. Pada pemeriksaan fisik dijumpai nyeri seluruh lapangan perut, hasil leukosit tgl 3-6-2016 16.200 mm3, dari hasil radiologis dijumpai adanya pneumoperitoneum. Hari Senin 6 Juni 2016 pasien dijadwalkan untuk operasi explorasy laparatomy dengan diagnosa peritonitis ec hallow organ perforation.

3. Pada hari Senin 6 Juni 2016 pukul 14.00 WIB, dokter bedah melakukan tindakan operasi terhadap pasien karena kondisi emergency, setelah mendapat penjelasan operasi dan persetujuan SIO (Surat Ijin Operasi) dari orangtua pasien yaitu Ibu M Tumanggor. Dokter bedah pada waktu penandatanganan SIO juga telah menyampaikan penjelasan atas resiko operasi yang akan diterima pasien. Temuan saat berjalannya operasi tampak pus (nanah) ± 200 cc dan dilakukan pencucian rongga abdomen serta adhesiolysis (pembebasan perlengketan). Kemudian setelah dilakukan pencucian rongga abdomen, tampak appendik perforasi, selanjutnya dokter bedah melakukan pemasangan drain dan penjahitan luka operasi lapis demi lapis. Dari hasil operasi tersebut, usus buntu tersebut ditunjukkan kepada keluarga pasien.

4. Proses tindakan operasi terhadap pasien yang dilakukan dokter bedah bersama dokter anastesi (dr Matdhika) Resident Senior FK USU Medan itu berlangsung sekitar 3 jam. Operasi itu sudah sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) di RSUD Pandan dan berjalan cukup baik, lancar, dan setelah selesai operasi kondisi pasien sadar penuh, selanjutnya dirawat di Ruang Mawar.

5. Pada hari Selasa 7 Juni 2016 pasien mengeluhkan nyeri perut, kembung, dan sesak nafas. Pasien direncanakan puasa dan pemasangan CVC. Saat hendak dilakukan pemasangan CVC di kamar operasi, dilakukan pemasangan monitor, tekanan darah 90/70, saturasi 75 %, RR: 22 x/i, nyeri perut, produksi selang drain tidak viabel dan perut membesar. Diputuskan dilakukan relaparotomy atas indikasi tersebut dan pemasangan CVC pada pukul 14.00 WIB relaparotomy selesai dilakukan sehingga post operasi saturasi naik menjadi 90 % dan pasien sadar penuh, selanjutnya dirawat di Ruang ICU untuk penatalaksanaan secara intensive. Post operasi dilakukan pemeriksaan darah lengkap dengan hasil Hb 7,3 g %, leukosit 18.000/mm3, dilakukan tranfusi 2 bag PRC. Post transfusi Hb 12,8 leukosit 55.900 mm3.

6. Pelayanan terhadap pasien setelah selesai relaparotomy dibawah pengawasan dokter anastesi (dr Matdhika) Resident Senior FK USU Medan. Pukul 17.00 WIB pasien mengalami penurunan kesadaran dan henti jantung, lalu dilakukan RJPO dan obat-obatan emergency pasien ROSC dan dilakukan pemasangan ETT dan dimasukkan ke mesin ventilator. Pasien diberikan obat-obatan N.epinefrine dan dobutamin karena tekanan darah turun. Pasien mengalami henti jantung kembali sampai 4 kali dengan dosis N.epinefrine dan dobutamin maksimal. Pada pukul 24.00 WIB pasien meninggal dunia, selanjutnya diserahkan kepada keluarga dan diantar dengan mobil ambulance RSUD Pandan.

Demikian penjelasan informasi pelayanan operasi kepada pasien dan kami seluruh pegawai RSUD Pandan memohon maaf dan turut bedukacita yang sebesar-besarnya kepada keluarga pasien, dan semoga seluruh keluarga dapat menerima kenyataan atas meninggalnya pasien.

– Tertandatangan dan stempel dr Sempakata Kaban MKes. (*)

 

Editor: Mora