1 tahun lalu |11 Juni 2016 14:32 |2308 Pembaca

Kakak Angeline Tolak Uang Duka dari RSUD Pandan

Foto: Ibu dan saudari Angeline Simanjuntak meratapi jasad almarhum. Istimewa/ST

TAPTENG, SUARATAPANULI.COM – Pihak keluarga, khususnya salah satu kakak kandung Angeline Simanjuntak (14), menolak uang duka dari pihak RSUD Pandan yang datang melayat ke rumah duka di Jalan Psp, Hutabuntul, Kelurahan Pinangsori, Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sabtu (11/6).

Awalnya bahkan kedatangan rombongan yang dikoordinatori Direktur RSUD Pandan dr Sempakata Kaban sempat ditolak masuk ke rumah duka.

“Kakak almarhum Ester Simanjuntak yang menolak keras kedatangan pihak RSUD Pandan. Setelah Ester dibujuk kerabat keluarga lainnya, mereka kemudian diizinkan masuk ke dalam rumah duka untuk menyampaikan ucapan turut berdukacita. Tapi uang sosial dari mereka ditolak pihak keluarga,” kata Pangeran Simanjuntak, salah satu kerabat keluarga almarhum.

Menurut Pangeran, dan dari alasan yang disampaikan pihak keluarga, Ester sebagai kakak yang menyayangi Angeline, masih emosi dan kecewa berat atas kematian adiknya itu.

“Dia (Ester) masih emosi sekali. Dia belum bisa menerima kenyataan ini dan sikap pihak RSUD Pandan,” kata Pangeran.

Seperti dikabarkan sebelumnya, kematian siswi kelas VIII SMP Negeri 1 Pinangsori itu pasca operasi usus buntu yang dideritanya pada Rabu (8/6/2016) malam  sontak membuat publik geger, terlebih pihak keluarga. Pasalnya, Angeline meninggal dunia dengan bekas sayatan operasi tersebut yang dianggap tidak wajar. Sayatan tampak memanjang dari bawah perut hingga pangkal dadanya. Ditambah sayatan pada kiri dan kanan permukaan perutnya.

Dokter awalnya memvonis Angeline menderita infeksi usus buntu akut, sehingga diputuskan dilakukan operasi besar untuk membersihkan nanah yang sudah menyebar ke seluruh area lambung. Namun nyawa Angeline tak terselamatkan.

Kasus kematian putri bungsu dari almarhum Jonni Simanjuntak-Junsaris Neri Br Sitinjak (46) itu lantas dilaporkan ke Polres Tapanuli Tengah. Dalam Surat Tanda Terima Laporan Nomor: STTL/96/VI/2016/SU/RES TAPTENG itu, pihak keluarga melaporkan RSUD Pandan atas pelanggaran undang-undang praktik kedokteran, atau lebih tepatnya Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Jasad Angeline kemudian dibawa ke RS Brimob Medan untuk diotopsi, lalu pada Sabtu (11/6) dini hari tadi tiba kembali di rumah duka. Dan rencananya sore ini jasadnya dikebumikan.

Pelaporan tersebut didasari keberatan dan kecurigaan pihak keluarga atas  ketidakwajaran ukuran bekas sayatan pada bagian permukaan perut saat Angeline dioperasi. Namun pihak manajemen RSUD Pandan milik Pemkab Tapanuli Tengah itu menepis tudingan telah melakukan malapraktik, dan menyatakan bahwa pelayanan medis, khususnya proses pengoperasian Angeline sudah sesuai SOP (standar operasional prosedur).

Editor: Mora