1 tahun lalu |26 Juni 2016 15:43 |1929 Pembaca

Kasus Lahan Rusunawa Sibolga, JES Beberkan Peran Walikota

Foto: Aksi kumpul koin oleh beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Perikanan Sibolga untuk membantu ekonomi keluarga JES yang merupakan dosen di sekolah tinggi itu, kemarin. Istimewa/ST

SIBOLGA, SUARATAPANULI.COM  Setelah ditahan penyidik Kejatisu, mantan Plt Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PKAD) Kota Sibolga Januar Effendi Siregar (JES), sepertinya kian leluasa ‘berkicau’. Salah satunya terkait peranan bekas pimpinannya Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk dalam kasus dugaan korupsi mark up pengadaan lahan rusunawa tersebut.

Awak SuaraTapanuli.Com berhasil menghubungi JES, saat jam besuk kemarin. Ia membantah kalau dirinya menerima uang dari pos pengadaan lahan itu.

“Saya akan buktikan satu sen pun tidak ada saya terima uang korupsi pengadaan tanah Rusunawa Sibolga. Saat pencairan uangnya memang saya menjabat sebagai Plt Kadis PKAD dan mencairkan uang pembelian lahan itu, tapi semua itu sesuai perintah dari Walikota Sibolga Syarfi Hutauruk. Bukti-bukti untuk pencairan dana tersebut juga ada sama saya,” beber JES.

Menurut JES, untuk membayarkannya pun, dirinya tetap berdasarkan perintah Walikota. Bukti-bukti dan saksinya juga ada. Salah satunya berdasarkan pengakuan Kabag Hukum Pemko Sibolga, pemilik tanah Adely Lis alias Juli, dan notarisnya Sarman Ginting, serta panitia pengadaan tanah, yang juga mendengar perintah pencairan uang itu.

“Saya menduga tentu ada
persekongkolan di situ untuk menumbalkan saya. Dan di sini ada pengakuan dari notaris Ginting yang mengatakan bahwa mungkin saya mau ditumbalkan,” kata JES pula.

Jika memang dirinya menerima uang hasil korupsi pengadaan tanah ini, masih JES, dirinya tentu tak sesulit keadaan sekarang yang untuk menghidupi keluarganya saja, sudah pontang-panting. Bahkan untuk memenuhi panggilan penyidik Kejatisu saja dirinya harus mencari pinjaman uang. JES pun menceritakan bahwa ia sudah berniat menjual rumahnya yang merupakan warisan orangtuanya.

“Berdasarkan rekaman pembicaraan dengan tersangka Adely Lis selaku penjual tanah, ada bukti yang menyatakan bahwa yang meminta agar tanah Adely Lis dijual kepada Pemko Sibolga adalah Walikota Sibolga dan panitia pengadaan tanah. Bahkan yang meminta harga sebesar Rp950.000 per meter persegi itu adalah Walikota Sibolga dan panitia. Bukan saya. Kalau dibilang sekongkol, tentu ada tawar menawar,” jelasnya.

Seperti dikabarkan sebelumnya, kasus dugaan korupsi pengadaan lahan untuk rusunawa ini mencuat kembali setelah tersangka Adely Lis alias Juli, bos PT Putra Ali Sentosa di Pondok Batu, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah, sekaligus penjual lahan ditahan penyidik Kejatisu pada Senin (13/6/2016). Empat hari kemudian, penyidik juga menahan tersangka mantan Plt Kepala Dinas PKAD Kota Sibolga Januar Effendi Siregar, pada Jumat (17/6/2016).

Dalam kasus ini, pembelian lahan seluas 7.171 m2 yang terletak di Jalan Mojopahit-Jalan Merpati, Kelurahan Aek Manis, Kecamatan Sibolga Selatan itu diduga dimark up sebesar Rp5,3 miliar. Nilai total anggaran pembelian lahan itu sebesar Rp6,8 miliar dari APBD Sibolga TA 2012.

Baik Adely Lis maupun JES, dikenakan Pasal 2 jo Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) KUHPidana.

 
Editor: Mora