1 tahun lalu |26 Juni 2016 23:33 |1074 Pembaca

Selamat Jalan Pdt Herman Baeha

Foto: Suasana rumah duka Pdt Herman Baeha saat hari pemakaman, Minggu (26/6). Chandra/ST
NIAS UTARA, SUARATAPANULI.COM – Semasa hidupnya, sosok Pdt Herman Baeha cukup dihormati di kampungnya di Desa Sitolubanua, Kecamatan Lahewa, Kabupaten Nias Utara. Ratusan pelayat dari kerabat keluarga, warga tetangga, dan jajaran Muspida Plus Nias Utara, memadati rumah duka saat hari pemakamannya, Minggu (26/6).

Tampak hadir Bupati Nias Utara M Ingati dan istri, Wakil Bupati Nias Utara Haogosochi Hulu, Kapolres Nias AKBP Bazawato Zebua, Ketua DPRD Nias Utara Foanoita Zai dan jajaran, para pendeta, tokoh masyarakat dan adat.

“Kami pun merasa sangat kehilangan akan sosok Bapak Pdt Herman Baeha sebagai Anggota DPRD Nias Utara. Beliau ini adalah sosok panutan yang dekat dan berani mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kepentingan masyarakat, khususnya Kecamatan Lahewa sekitarnya,” ucap Wakil Bupati Haogosochi Hulu saat menyapaikan ungkapan bela sungkawa atas nama pemerintah daerah.

Baru Mulai Suka Mancing dan Ingin Tulis Buku

Almarhum meninggalkan seorang istri dan 3 anak. Anak sulung dan anak keduanya saat ini sedang menyelesaikan studi S2 di Korea. Dan anak bungsunya masih duduk di bangku SMA di Jakarta.

Pdt Herman sendiri merupakan kader Partai Golkar. Salah satu rekannya di DPRD, Bedali Lase mengakui bahwa suatu waktu lalu saat mereka bersama kunjungan ke luar daerah, almarhum pernah minta tolong diajari berenang di kolam renang. “Almarhum ini tak pandai berenang. Dia pernah minta diajari berenang,” katanya.

Dan seperti diceritakan Ketua DPRD Foanoita Zai, bahwa sebelumnya Pdt Herman Baeha pernah berniat menulis buku dengan judul “Batu Karang di Tengah Politik”.

Sementara seperti cerita adik kandung almarhum, Sukanto Baeha, selain untuk memancing di laut, abangnya itu berniat untuk menghadiri pesta salah satu kerabat keluarga di Pulau Hinako.

Sukanto juga menuturkan bahwa sebelumnya abangnya itu tidak hobi memancing. Tapi karena pernah sekali memancing di tepi laut dan rupanya kailnya berezeki, banyak bahkan ia mendapat ikan besar yang sempat membuat tali pancingnya putus.

“Makanya karena gembiranya saat itu, dia jadi mulai suka dan senang memancing. Itu sebabnya dia ingin memancing ke tengah dan mengajak kawan-kawannya itu mancing agak di tengah laut,” kenang Sukanto.

Seperti dikabarkan, perahu bermotor naas itu ditumpangi 3 pendeta dan 2 awak kapal. Kelimanya yakni Pdt Budeili Hia, Pdt Soriziduhu Marundruri, Pdt Herman Baeha, dan awak perahu Syahnan Marundruri dan Jimmy.

Tadinya mereka berangkat dari Dermaga Hinako untuk memancing di perairan Pulau Bogi. Tak lama setelah berangkat dari dermaga, perahu mereka terbalik dan tenggelam dihantam ombak. Kelimanya sepakat untuk berenang bersama-sama mengikuti arah angin ke Pulau Bogi. Mereka berenang dengan menggunakan papan dan jerigen dari perahu yang mereka tumpangi. Namun akibat hantaman ombak, mereka terpisah.

Pdt Budieli Hia akhirnya terdampar ke Pulau Asu pada Kamis (23/6) dini hari sekira pukul 03.00 WIB, atau setelah 11 jam terombang ambing di laut. Sementara awak perahu Syahnan Marundruri dan Jimmy selamat dan terdampar di Pulau Bogi. Dan Pdt Saron Marindruri ditemukan selamat di Pulau Langu, Kamis (23/6) pagi.

Editor: Mora