1 tahun lalu |19 Juli 2016 08:04 |1136 Pembaca

Syarfi Hutauruk Hadiri Panggilan Ketiga Kejatisu, Diperiksa 7 Jam

Foto: Gedung Rusunawa Sibolga di Jalan Mojopahit-Jalan Merpati, Kelurahan Aek Manis, Kecamatan Sibolga Selatan yang sudah diresmikan oleh Menteri PU Pera Basuki Hadimuljono pada Maret 2015 lalu, namun pengadaan lahannya masih terbentur kasus hukum di Kejatisu. Dok/ST

SIBOLGA, SUARATAPANULI.COM – Meski sempat menyangkal adanya 2 kali pemanggilan, Syarfi Hutauruk rupanya tak mau mangkir lagi di pemanggilannya yang ketiga. Walikota Sibolga ini pun hadir dan menjalani pemeriksaan penyidik Kejatisu di Medan, semalam Senin (18/7/2016), dalam kapasitasnya sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi pengadaan lahan rusunawa di daerahnya.

“Sekitar pukul 10.00 WIB Syarfi Hutauruk datang ke Kejatisu untuk diperiksa sebagai saksi. Pemeriksaannya selesai sekitar pukul 16.00 WIB,” ujar Kasi Penkum Kejatisu Bobbi Sandri saat dihubungi wartawan.

Pemeriksaan berlangsung tertutup di Ruangan Pidsus. Sedikitnya ada 20 pertanyaan yang dihadapkan kepada Syarfi dalam pemeriksaan itu.

“Pemeriksaan ini untuk mendalami siapa saja yang terlibat dalam pembebasan lahan rusunawa itu,” tambah Bobbi seraya menambahkan bahwa Syarfi Hutauruk bisa saja kembali dipanggil selama masih ada keterangannya yang masih diperlukan oleh penyidik.

Syarfi Hutauruk sendiri belum berhasil dikonfirmasi terkait pemeriksaannya semalam. Tapi sebelumnya saat menggelar konferensi pers di kantornya pada Kamis (14/7/2016), Syarfi Hutauruk menyatakan dirinya tidak pernah menerima surat panggilan dari Kejatisu, baik itu yang katanya dikirim ke kantornya, ke sekretariat daerah, maupun ke unit kerja sekretariat bagian umum.

Namun Syarfi menyatakan tidak akan mengelak dari prosedur hukum tersebut. Dimana sebagai warga negara yang baik, ia siap menghadiri panggilan tersebut jika surat resmi diterimanya.

Seperti diberitakan, kasus dugaan penggelembungan anggaran pembelian lahan rusunawa dari APBD Kota Sibolga TA 2012 senilai Rp6,8 miliar itu sudah menjerat dua tersangka, yakni Adely Lis alias Juli, seorang pengusaha, selaku penjual lahan, dan Januar Effendi Siregar (JES) selaku Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PKAD) Kota Sibolga saat itu. Keduanya kini tengah mendekam di Lapas Tanjung Gusta Medan.

Keduanya dikenakan Pasal 2 jo Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 ayat (1) KUHPidana.‬

 

Editor: Marihot Simamora