1 tahun lalu |31 Juli 2016 00:58 |639 Pembaca

Melirik “Nisan” Toba Go Green

Foto: Prasasti program Toba Go Green yang dilaksanakan pada tahun 2011 lalu. (Istimewa)

PENCANANGAN Penanaman Pohon Restorasi Lingkungan Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Desa Huta Ginjang, Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara pada Jumat 29 Juli 2016 kemarin mengingatkan penulis dengan Toba Go Green, suatu program penanaman pohon yang dieksekusi oleh Komando Daerah Militer 1 Bukit Barisan (Kodam I/BB).

Program Toba Go Green dilaksanakan tepat dengan Hari Menanam Pohon Indonesia, 28 November 2011 lalu, tepatnya di Dusun Silonggom, Desa Lintong Nihuta, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Hadir pada saat itu, mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjend Azmyn Yusri Nasution, mantan Pangdam I/BB Mayjen TNI Lodewijk F Paulus, Gatot Pujo Nugroho yang saat itu masih Plt Gubernur Sumatera Utara, mantan Kapodasu Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, mantan Kajati Sumatera Utara Drs Nurrahmat, serta seluruh Bupati yang berada di sekitar kawasan Danau Toba, tokoh masyarakat dan adat, kelompok masyarakat, pelajar dan mahasiswa.

Dalam telewicara dengan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dari Bukit Merah Putih Sentul, Jawa Barat saat itu, Pangdam I/BB Mayjen TNI Lodewijk F Paulus menjelaskan bahwa program Toba Go Green merupakan program penanaman pohon dengan target 42 juta pohon di lahan kritis kawasan Danau Toba seluas 380.134 hektar. Dengan target penanaman 500 ribu batang per bulan, selama 1 tahun Kodam Bukit Barisan yakin dapat menanam 6 juta pohon. Sehingga dalam 7 tahun ke depannya sekeliling Danau Toba akan terlihat hijau.

Pada kesempatan itu, Presiden SBY berpesan agar penanaman dapat dapat dilaksanakan dengan baik dan dapat dirawat secara continiue, sehingga dapat tumbuh dengan subur.

Akan tetapi ketika penulis berkunjung ke lokasi itu pada Sabtu 30 Juli 2016 kemarin, terpampang fakta yang mengejutkan. Fakta yang menciptakan satu pernyataan bahwa program Toba Go Green yang pencanangan begitu mewah dan penuh ‘kegilaan’ hanya bersifat seremonial.

Bibit pohon kemiri yang ditanam Mayjen TNI Lodewijk J Paulus, Irjen Pol Wisjnu Amat Satro, Gatot Pujo Nugroho dan Drs Nurrahmat hanya meninggalkan jejak prasasti. Bibit pohon trembesi yang ditanam oleh Marsma TNI Bonar Hutagaol (mantan Pangkosekhanudnas III Medan), pohon suren yang ditanam oleh Laksma TNI Bambang Soesilo (mantan Danlatamal 1 Belawan) juga bernasib sama. Tak terkecuali bibit-bibit pohon yang ditanam oleh para Bupati se-kawasaan, semua mengukuti jejak serupa.

Tidak ada 1 bibit pohon pun yang terlihat tumbuh subur sesuai pesan Presiden SBY. Yang tersisa hanya coran batu semen sebagai penopang prasasti. Bila dipandang dari jarak 50 meter seakan mirip dengan batu nisan prasasti, karena memang di lokasi tersebut terdapat banyak makam keluarga milik masyarakat sekitar.

Sesungguhnya apakah hal ‘kegilaan’ seperti tersebut sudah lama berlangsung dan masih terus terjadi dalam banyak acara seremonial penanaman bibit pohon di seluruh penjuru Indonesia?

Prasasti gagah dari nama sang penanam bibit pohon menjadi bukti nyata sejarah dan upaya sangat luar biasa. Upaya sedemikian habis-habisan untuk menghijaukan kawasan Danau Toba dengan pepohonan.

Apakah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sekarang Siti Nurbaya akan mengulangi ‘dagelan’ acara seremonial penanaman bibit pohon di kawasan Danau Toba?

Sudah berapa banyak uang negara dan perusahaan swasta yang terbuang sia-sia selama ini?

Acara seremonial penanaman bibit pohon sedemikian meriah diliput media massa cetak dan elektronik, tetapi pernahkah dipublikasikan kepada umum persentase tumbuh bibit pohon yang ditanam?

Sampai kapan ‘kegilaan’ dan keteledoran (yang disengaja) ini akan terus dan menerus berlangsung dan dilanjutkan. Lagi, lagi, lagi-lagi…?

Sudah banyak orang yang selama ini sungguh benaran berhasil menjadi kaya dan atau memperkaya dirinya, kelompok/perusahaannya dari hasil tindak pidana korupsi proyek reboisasi dan rehabilitasi lahan, serta proyek penghijauan.

Sesungguhnya, ceritera fakta nyata mengenai serba-serbi ‘dagelan’ proyek penanaman bibit pohon ini sudah dan sedang (dan akan) terjadi di berbagai lokasi tanam di seantero bumi Nusantara. Lantas monumen penanaman bibit pohon itu? Sangat tragis.

Sejarah kelam berbagai proyek serba-serbi reboisasi dan penghijauan di dalam areal kawasan hutan Indonesia, dan program nyata penghijauan di lahan yang berada di luar kawasan hutan. Sudah banyak langgam ceriteranya, sarat tindak pidana korupsi, tipu-menipu dan tentunya telah menghasilkan dokumen “asal bapak senang” di seluruh penjuru Indonesia. (*)

 

Penulis: Tulus Sibuea, Jurnalis Televisi dan Media Online.