1 tahun lalu |2 Agustus 2016 17:31 |1869 Pembaca

Terkait Kantor Pusat HKBP Dibobol Maling, Polisi masih Periksa 5 Orang

Foto: Aiptu Walpon Baringbing.

TAPUT, SUARATAPANULI.COM – Untuk mengungkap pelaku pembobolan Kantor Pusat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) pada Senin (1/8) kemarin, penyidik Polres Tapanuli Utara (Taput) sudah memeriksa atau mengambil keterangan dari 5 orang. Polisi juga akan mengambil keterangan dari masing-masing pemilik ruangan dan para pekerja bangunan yang kebetulan sedang bekerja tak jauh dari kantor utama itu.

“Sudah ada 5 orang yang diambil keterangan, selanjutnya akan diambil keterangan dari masing-masing pemilik ruangan dan staf yang bekerja di ruangan tersebut, serta pekerja bangunan yang sedang mengerjakan Gedung Sopo Raja Pontas,” jelas Kapolres Taput AKBP Dudus HD melalui Kasubbag Humas Aiptu Walpon Baringbing kepada awak media, Selasa (2/8).

Diuraikan Baringbing, kelima orang yang diambil keterangannya itu yakni 2 petugas security bernama Tobok Simatupang danĀ Agung Sihombing. Lalu 1 petugas pertamanan bernama Tumpal Silaban, 1 petugas kebersihan Rinto Simanjuntak, dan pelapor kejadian yakni Pdt Freddi Tinambunan yang juga sebagai koordinator keamanan dan aset kantor pusat.

Lebih lanjut diterangkannya, pemilik ruangan dan staf yang akan diambil keterangan yakni ruangan yang dibongkar maling, di antaranya ruang kerja Ephorus, ruang kerja kepala biro personalia, ruang kerja kepala biro pensiunan, ruang kerja kepala departemen diakonia, ruang kerja bendahara, dan ruang resepsionis.

“Mereka belum diambil keterangannya karena sedang tidak berada di Tarutung atau sedang di luar kota,” sambung Baringbing.

Dipaparkan Baringbing, dari hasil olah tempat kejadian lerkara (TKP) yang dilakukan tim identifikasi dan satreskrim, seluruh uang yang disikat maling berasal dari laci meja, bukan dari dalam lemari khusus seperti brankas.

“Dan pelaku tidak membongkar seluruh laci yang ada di setiap ruangan. Hanya satu laci, dan ketepatan laci yang dibongkarnya itu memang berisi uang. , Sedangkan di dalam laci lainnya tidak ada uang yang tersimpan,” ungkapnya.

Baringbing mempertegas bahwa jumlah uang yang disikat pelaku diperkirakan sebanyak Rp434 juta. Dimana yang terbanyak berasal dari ruang bendahara, dan yang terkecil dari ruang resepsionis.

Sementara itu hingga Selasa (2/8), belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen kantor pusat salah satu gereja terbesar di Asia ini terkait peristiwa pencurian tersebut. Namun sesuai pantauan, aktifitas di kawasan perkantoran yang terletak di Jalan Putri Lopian, Pearaja, Kecamatan Tarutung itu sudah berjalan normal.

 

Editor: Marihot Simamora