1 tahun lalu |5 Agustus 2016 11:01 |697 Pembaca

Sempat Diamankan, Polres Sibolga Lepas Truk Daging Celeng

Foto: drh Iskandar saat memeriksa truk pengangkut daging celeng yang hendak menyeberang dari Sibolga ke Gunungsitoli. Ray/ST

SIBOLGA, SUARATAPANULI.COM – Seunit truk jenis Colt Diesel warna merah bernomor polisi BD 8011 NU pengangkut daging celeng sempat diamankan pihak Polres Sibolga dari kawasan Pelabuhan ASP Sibolga, Rabu (3/8/2016) malam. Namun truk yang hendak menyeberang ke Gunungsitoli, Pulau Nias tersebut kemudian dilepas dengan alasan tidak ada ditemukan pelanggaran.

Kasat Reskrim Polres Sibolga AKP Sutrisno membenarkan hal itu. Menurutnya, pengamanan truk ke Mapolres pada malam itu lantaran tidak ada lokasi lain yang dianggap aman. Dijelaskannya juga, bahwa pada awalnya pemeriksaan dan pengamanan truk itu karena ada laporan informasi tentang dugaan pelanggaran yang dilakukan.

“Truk tidak ditahan lantaran setelah kami lidik sama sekali tidak ada ditemukan terkait pelanggaran sebagaimana peraturan berlalulintas. Bahkan kelengkapan dokumen yang menyertai pengiriman daging celeng itu sendiri kami nilai telah lengkap dan tidak ada kesalahan,” ungkapnya menjawab wartawan saat ditanya soal kabar tangkap lepas truk itu, Kamis (4/8/2016) kemarin.

Pengawas Kesmavet Sebut Ada Pelanggaran 

Sementara drh Iskandar selaku Pengawas Kesehatan Makanan dan Veteriner (Kesmavet) Sibolga-Tapteng, turut melakukan pemeriksaan terhadap truk tersebut pada malam itu, dibantu seorang petugas TNI AD dari Koramil Sibolga. Ia kemudian meminta pihak kepolisian untuk mengamankan dan menyelidiki keabsahan dokumen pengakutan daging babi hutan itu. Sebab diduga telah melanggar sejumlah peraturan perundang-undangan.

“Dari hasil pemeriksaan kami malam itu, ada tiga peraturan yang dilanggar, yakni UU Peternakan dan Kesehatan Hewan, Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner, dan UU Perlindungan Konsumen,” kata drh Iskandar.

Diungkapkannya, truk asal Muko-muko, Provinsi Bengkulu tersebut sama sekali tidak dilengkapi surat rekomendasi pemasukan daging ke wilayah Sumatera Utara dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewannya. Kemudian sesuai Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) yang dibawa oleh sopir truk dari Provinsi Bengkulu itu muatan nya sebanyak 2 ton, tapi pada kenyataannya daging yang dibawa truk itu sebanyak 6-8 ton.

Menurut drh Iskandar lagi, biasanya truk tersebut ada dua unit sekali berangkat dari Bengkulu. “Maka ada indikasi untuk mengurangi biaya ongkos penyeberangan kapal, muatan digabungkan ke satu truk,” bebernya.

Selain itu, masih drh Iskandar, daging harusnya dimasukkan ke dalam fiber. Tapi truk tersebut tidak menggunakan fiber, sehingga limbah bekas pemotongan babi hutan itu tercecer seperti terlihat di area parkir truk tersebut di kawasan pelabuhan.

“Kemudian, kami belum ada menerbitkan surat rekomendasi pemeriksaan kesehatan daging saat truk tiba/transit di Sibolga atau pun di Tapteng. Padahal seyogianya harus diperiksa sebelum daging tersebut diseberangkan ke daerah tujuan,” tukasnya.

Menurutnya, sesuai prosedur atau ketentuan, sehari sebelum truk pengangkut daging celeng tersebut tiba di daerah transit, sudah harus melapor kepada instansi berwenang, supaya bisa ditugaskan petugas kesehatan untuk memeriksa dan menerbitkan surat keterangan kesehatan daging.

“Tapi ini tidak mereka (pihak truk pengangkut daging) lakukan. Sehingga pada malam itu juga, kami meminta kepada pihak Karantina Sibolga supaya juga tidak menerbitkan surat rokomendasi kesehatannya,” paparnya.

Berdasarkan kronologis pemeriksaan awal pada malam itu, drh Iskandar meminta kepada pihak kepolisian dan dukungan aparat TNI untuk mengamankan sementara truk, agar bisa dilakukan pemeriksaan secara mendalam. Tujuannya selain untuk mengantisipasi terjadinya tindak penyeludupan, juga untuk mencegah potensi penularan penyakit.

“Sebab babi hutan merupakan salah satu hewan pembawa penyakit menular dan paling berbahaya bersifat zoonosis yang dapat menular kepada manusia. Karena itu kami selaku petugas kesehatan hewan di daerah ini terus melakukan pengawasan. Meski pun pada kenyataannya lalulintas daging babi hutan, khususnya ke Gunungsitoli, sangat leluasa masuk,” pungkasnya.

 

Editor: Marihot Simamora