1 tahun lalu |25 Agustus 2016 15:53 |673 Pembaca

Usut Indikasi Korupsi Mantan Bupati Tapanuli Tengah

Foto: GEMPAR saat berorasi di depan Kantor Kejari Sibolga. Dok/Istimewa

SIBOLGA, SUARATAPANULI.COM – Gerakan Muda Perjuangan Rakyat (GEMPAR), mendesak Kejari Sibolga mengusut sejumlah indikasi korupsi yang dilakukan mantan Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng), Sukran Jamilan Tanjung. Mereka mendatangi Kantor Kejari Sibolga, Kamis (25/8).

Diantaranya terkait penggunaan dana hibah organisasi TP PKK mencapai Rp750 juta, Anggran Dana Desa TA 2015, dan pungutan terhadap siswa yang berangkat Jambore Nasional Pramuka berdalih Surat Edaran Ketua Kwarcab atas nama Sukran Jamilan Tanjung.

Dalam orasinya, Binahati Ziliwu sebagai koordinator massa menyampaikan bahwa selama menjabat sebagai Bupati Tapteng, Sukran diduga telah melakukan banyak penyelewengan anggaran belanja daerah.

Mereka juga menilai Sukran telah melakukan korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) yang terbukti dalam penggunaan anggaran banyak melakukan pemotongan baik fisik maupun non fisik karena kepentingan sang penguasa.

“Melihat dan mencermati persoalan buruknya kinerja jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam pengelolaan anggaran bersumber dari uang rakyat TA 2014 dan 2015 tidak berpihak kepada kepentingan rakyat dibawah kepemimpinan mantan Bupati Tapteng Sukran Jamilan Tanjung, ” ujar Binahati.

Setelah menyampaikan orasinya, Kasi Intel Kejari Sibolga Bahrin Idris, menyampaikan terimakasih atas kehadiran GEMPAR yang secara tidak langsung ikut membantu dalam pengawasan pelaksanaan program dan dana pembangunan daerah.

“Kehadiran saudara sekalian menjadi semangat bagi kami untuk tetap bekerja dengan maksimal mengungkap dan mengusut kasus, dalam penegakan supremasi hukum di negara kita ini, sampai saat ini beberapa kasus dugaan korupsi telah kami selidiki, namun itu semua tidak bisa kami publikasikan terkait penyelidikan yang sedang berlangsung,” pungkasnya.

Usai menyampaikan orasi GEMPAR juga menyerahkan seekor burung dalam sangkar sebagai simbol, dan beberapa dokumen hasil investigasi mereka.

 

Editor: Marihot Simamora