2 tahun lalu |29 Maret 2016 15:22 |380 Pembaca

Pertamina Harus Dikuatkan‬ Seperti Dulu

SIBOLGA, SUARATAPANULI.COM- Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Gus Irawan Pasaribu berkometimen agar posisi PT Pertamina sebagai BUMN dapat kembali kuat seperti dulu.‬ Hal itu diungkapkan Gus saat mengunjungi Terminal BBM Sibolga, Selasa (29/3).‬

“Informasi, sudah masuk dalam prolegnas UU migas. Ada pikiran kami di Fraksi Gerindra, ingin mengembalikan pertamina seperti yang dulu,” ujar Gus.‬

‪Menurutnya, penguatan posisi PT Pertamina itu dapat diwujudkan dengan mengembalikan aturannya langsung dengan UU (undang-undang) tersendiri.‬ “Dulu seperti itu, sekarang malah diatur di bawah UU BUMN,” tukas Gus.

Gus menyangkan Pertamina kini justru sama posisinya dengan perusahaan-perusahaan swasta, seperti PT Cevron Pasific Indonesia (CPI) dan PT Exon Mobil Indonesia. Padahal menurutnya itu sudah bertentangan dengan konstitusi negara.‬

“Kami melihat ini tidak sejalan dengan UUD 1945 Pasal 33. Pengelolaan sektor energi dan migas di Indonesia sekarang ini sangat liberal. Padahal sebagai anak bangsa, saya lebih percaya dengan pertamina sebagai BUMN,” pungkasnya.‬

Mantan Dirut PT Bank Sumut itu menyebutkan, dalam pengelolaan sektor energi di Indonesia, pemerintah melalui SKK Migas dinilai lemah dalam melakukan kontrol. Alasan cost recovery yang kerap diklaim oleh perusahaan swasta, dinilai telah merugikan negara.‬

“Siapa yang tau apa yang dilakukan di kilang minyak, tapi mereka klaim. Cost recovery ini sangat besar, akibatnya bagian produksi negara menjadi kecil,” tukasnya.‬

Contoh kasus, sambung Gus, yakni riset dan uji coba EOR yang saat ini tengah dilakukan oleh PT Cevron Pasific Indonesia (CPI). Dimana, uji coba yang belum membuahkan hasil itu berpotensi merugikan negara karena cost recovery.‬

“Ada 200 juta dollar dikeluarkan cevron untuk riset dan ujicoba terkait EOR. Itu diklaim cost recovery, untuk dikembalikan. Saya keberatan, kegiatan riset kok dibebankan ke Indonesia,” pungkasnya.‬

Padahal, masih Gus, jika hasil uji coba itu berhasil, maka tekhnologi itu akan diterapkan di seluruh dunia. Sementara Indonesia terbebani biaya cost recovery dan hanya akan mendapat production sharing.‬

“Kalau Cevron berhasil, akan digunakan di seluruh dunia, dan Indonesia yang menanggung biaya risetnya. Sekarang hasilnya normal, masih ujicoba dan belum digunakan,” pungkasnya.

Editor: Mora