1 tahun lalu |1 Oktober 2016 12:25 |766 Pembaca

Kasus Lahan Rusunawa Sibolga, Juli Didakwa Rugikan Negara Rp3,2 M

Foto: Gedung Rusunawa Kota Sibolga yang pengadaan lahannya diduga dimark up. (dok)
MEDAN, SUARATAPANULI.COM – Perkara dugaan korupsi pengadaan lahan Rusunawa Kota Sibolga TA 2012 beranggaran Rp6,8 miliar digelar di Pengadilan Tipikor Medan, Kamis (29/9/2016). Pemilik lahan, Adely Lis alias Juli duduk di kursi ‘pesakitan’ atas  dakwaan merugikan negara sebesar Rp3,2 miliar.

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejatisu, Netty Silaen menyebutkan Adely Lis selaku penjual lahan berdasarkan Akta Perjanjian Jual Beli Tanah Nomor: 98/L/SGM/2012 tanggal 21 Juni 2012 dinyatakan bersalah, bersama-sama dengan terdakwa lainnya, Januar Effendi Siregar yang saat itu selaku Plt Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PKAD) Pemko Sibolga. Penuntutan terhadap Januar Effendi Siregar diajukan secara terpisah.

“Terdakwa telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan yang secara sah melawan hukum dan memperkaya diri sendiri atau korporasi yang dapat merugikan negara,” ucap Netty Silaen di hadapan majelis hakim yang diketuai Robert Posuma saat sidang di Ruang Cakra VII.

JPU menyatakan ada dugaan mark up harga nilai dalam pengadaan lahan seluas 7.171 m2 di Jalan Mojopahit-Jalan Merpati, Kelurahan Aek Manis, Kecamatan Sibolga Selatan, sebesar Rp5,312 miliar yang merugikan keuangan negara.

Dipaparkan bahwa awalnya tanah tersebut dibeli seharga Rp1,5 miliar, kemudian berikutnya Rp5,3 miliar. Sehingga total dana yang dibayarkan melalui APBD TA 2012 menjadi sebesar Rp6,8 miliar.

“Akibat perbuatannya, terdakwa Adely Lis telah menguntungkan dirinya sendiri. Sedangkan negara atau Pemko Sibolga telah dirugikan sebesar Rp3.280.015.400 sebagaimana laporan hasil audit investigatif perhitungan kerugian keuangan negara,” jelas Jaksa Netty.

Juli pun didakwa melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Tipikor jo UU Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana, dengan ancaman penjara maksimal 20 tahun.

Usai mendengarkan nota dakwaan tersebut, terdakwa melalui kuasa hukumnya menyatakan akan mengajukan nota eksepsi atau keberatan pada sidang lanjutan pekan depan.

Setelah itu pengadilan menggelar sidang perkara yang serupa dengan terdakwa Januar Efendy Siregar. (sum: msc)

Editor: Mora