1 tahun lalu |3 Oktober 2016 21:52 |649 Pembaca

“SANTABI”

Foto: Waldemar Simamora. (Ist)

Oleh: Waldemar Simamora

BELAJAR bahasa tak sekadar tekstual, tetapi juga kontekstual. Bahasa dianggap sebagai media berkomunikasi semata, tetapi dibalik itu bahasa adalah ekspresi batin penutur atau pengguna bahasa bersangkutan. Sayangnya, konsistensi keteraturan, keindahan, dan kesantunan berbahasa Batak Toba saat ini mengalami proses pergeseran secara masif. Yang akan dipaparkan dalam konteks tulisan terbatas pada ekspresi kejengkelan oleh berbagai penutur berupa pelesetan makna dan pemaknaan sebuah kata yang menjadi judul tulisan ini. Meminjam istilah Eko Endarmoko, “kata adalah jantung tulisan, wakil yang membopong ide-ide penulis”.

Akhir-akhir ini, kata “santabi” (baca : sattabi) yang diucapkan seseorang ditentang pihak lain, seolah-olah dianggap “parsantabian” (baca : parsattabian), hal ini merupakan pelesetan makna yang berkonotasi negatif. Santabi dan parsantabian adalah dua hal yang berbeda dalam pengertian positif. Santabi dalam pengertian sempit adalah “maaf”. Dalam pengertian luas adalah permohonan maaf yang diucapkan seseorang pada saat memulai aktivitas bicara kepada orang yang mendengarkan, manakala terdapat kekurangan atau kesilapan atas tutur kata, sikap, dan perilaku orang yang sedang bicara, baik dalam acara formal dan non formal. Dalam upacara adat, misalkan acara duka cita atas meninggalnya seseorang. Kata santabi selaras dengan “huhuasi” dari pihak yang punya hajatan (hasuhuton) yakni permohonan maaf sekaligus pengantar acara yang mengawali acara adat.

Dalam konteks tulisan yang bertema budaya Batak Toba dengan pengantar berbahasa Batak Toba. Oleh berbagai penulis dari kalangan orang Batak, kata santabi lazim diucapkan di awal tulisan dan atau di akhir tulisan dengan prinsip kurang lebih sama. Pengertian lain santabi adalah “permisi”. Seseorang yang hendak melewati orang yang sedang duduk atau berdiri. Sikap yang demikian menunjukkan rasa hormat dalam ranah etiket atau sopan santun dalam sistem kekerabatan dan tata pergaulan. Dalam sastra lisan (SL), hal yang demikian dinamai “paho” yang berkorelasi dengan kata “maradat”.

Seseorang atau sekelompok orang kurang memahami makna dan pemaknaan “maradat”. Dengan kata lain pemahaman makna maradat tidak utuh yakni maradat itu hanya dipahami pada upacara-upacara adat. Menurut hemat penulis, makna seutuhnya dari maradat adalah bagian dari aktualisasi diri atas ketaatan terhadap sistem sosial dan normatif yang berlaku, baik pada upacara-upacara adat, musyawarah atau perundingan adat maupun dalam kehidupan keseharian yang merupakan ajaran-ajaran yang bersifat referensi dalam pengertian sastra lisan. Contoh mutakhir, “maradat manghatai”. Artinya, pelihara etiket berbicara. “maradat hundul” (marsijugukon). Artinya, menempatkan diri dalam konteks adat dalam kedudukan menurut sistem kekerabatan. Kedua, duduklah yang sopan. Ketiga, jangan duduk di tempat yang sudah diatur untuk tempat duduk orang lain. Hal ini berisiko, misalkan diusir. Hindari rasa malu atas perbuatan sendiri yakni tidak tahu etiket (ndang maradat).

Apa pengertian lain santabi ?. Demokrasi Batak merupakan demokrasi tertua diantara ratusan suku bangsa di tanah air. Praktik pelaksanaan demokrasi Batak dapat disimak dalam musyawarah warga desa dalam pengambilan keputusan. Musyawarah, apa hubungannya dengan santabi ?. Manakala pemahaman ini benar, salah satu esensi demokrasi Batak adalah setiap orang terutama kaum bapak memiliki hak prerogatif untuk angkat bicara, baik formal maupun non formal. Dalam sastra lisan dinamai “jambar hata”. Prinsip yang masih dipegang teguh adalah ‘hansit na so dapot jambar juhut, hansitan na so dapotan jambar hata’ . Artinya, hak angkat bicara jauh lebih penting dibandingkan dengan hak untuk menerima bagian dalam bentuk daging.

Pada saat berlangsungnya musyawarah atau perundingan adat, seseorang yang dianggap menyimpang dari topik pembicaraan, bertele-tele atau dengan alasan lain. Pihak lain memiliki hak angkat bicara untuk memotong pembicaraan dari orang yang sedang bicara dengan menyebut “santabi”. Pengertian santabi dalam konteks musyawarah dan yang sejenis adalah “interupsi” berupa koreksi atau teguran terhadap hal yang sedang dibicarakan. Adagium dalam demokrasi Batak, berbunyi ‘hata mamunjung hata lalaen, hata torop sabungan ni hata’ . Artinya, “yang memutlakkan pendapatnya adalah keliru, kesepakatan dan komitmen bersama merupakan puncak pengambilan keputusan” (Waldemar Simamora, 1997).

Kini marilah kita beralih terhadap parsantabian. Ditinjau dari sudut tata bahasa, parsantabian tergolong imbuhan yakni gabungan awalan dan akhiran yang disebut konfiks terdiri dari par-an dengan kata dasar santabi. Seseorang atau sekelompok orang yang mempelesetkan makna parsantabian, seolah-olah dianggap tempat yang angker, hal ini kurang tepat jika tidak etis disebut keliru. Makna parsantabian ialah wujud penghormatan sebagai ungkapan terima kasih seseorang atas jasa orang lain yang memiliki keahlian / ketrampilan, baik dalam bentuk uang maupun dalam bentuk lain.

Parsantabian dalam bahasa halus adalah kemaluan dan pengertian lain adalah upeti sebagaimana dikutip penulis dari Kamus Batak Indonesia, karangan J. P. Sarumpaet, MA, cetakan kedua Erlangga 1995. Rasa enggan menggunakan bahasa Batak Toba bahkan terkesan makin dijauhi, pelesetan dan menggampangkan bahasa Batak Toba merupakan proses mempercepat kepunahan bahasa ini ke depan. Penulis mengutip pesan mantan Ephorus HKBP (almarhum Dr. J. Sihombing) yang tertuang dalam buku : “Jambar Hata Dongan tu Ulaon Adat”… “sipasurut hamajuon do, ganup na marlea ni roha di hata Batak”.

Mengakhiri tulisan ini, penulis dengan rendah hati mengucapkan “santabi godang ma di hamuna saluhutna pamasa na uja, ai nunga lola tingkimuna mamasa rangsa on. Horas…!”

 

(Penulis adalah pemerhati bahasa Batak Toba, tinggal di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara)