1 tahun lalu |19 Oktober 2016 17:46 |2063 Pembaca

Memaknai Berbagai Kosakata dalam Bahasa Batak Toba

Foto: Waldemar Simamora. (Ist)

Oleh: Waldemar Simamora

BAHASA tulisan, baik dalam bentuk buku maupun dalam bentuk lain sebagai sumber tertulis yang dipublikasikan melalui media cetak patut diapresiasi. Informasi penting yang mengulas konten lokal (bahasa ibu) sebagai unsur dominan dari budaya dapat dijadikan referensi untuk dipelajari generasi pembelajar sepanjang hayat. Sayangnya, sebagian bahasa Batak Toba yang dialihkan sedemikian rupa dalam bahasa Indonesia kurang memperhatikan ketajaman ekuivalensi dinamis. Dengan kata lain, makna menjadi tidak utuh sesuai (dengan) amanat naskah asli.

Faktor kebiasaan dalam konteks sastra lisan berpengaruh terhadap bahasa tulisan. Artinya, pengalihan kosakata dalam bahasa Indonesia dimaknai secara tekstual, tetapi makna secara kontekstual kurang mendapat perhatian. Bahasa dipandang sebagai alat berkomunikasi semata, tetapi makna dibalik itu juga terkait latar sosial dan ekspresi batin penutur atau pengguna bahasa bersangkutan. Faktor lain adalah bahasa Batak Toba memiliki keteraturan, kekayaan kosakata, dan tata bahasa khas, tetapi tidak diimbangi pengembangan intelektual dengan kemampuan menafsirkan makna utuh bahasa ini sesuai konteks zamannya.

Dengan begitu, ketajaman ekuivalensi menjadi tema sentral untuk mengalihkan berbagai kosakata dalam bahasa Indonesia dan atau bahasa lain. Menurut definisi, “ekuivalensi dinamis adalah kualitas terjemahan yang mengandung amanat naskah asli yang dialihkan sedemikian rupa dalam bahasa sasaran”… Yang menjadi kata kunci adalah “makna yang berdekatan” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997 : 256). Penulis akan membuka lembaran dan merujuk pada halaman buku terkait hal yang akan dibahas dalam konteks tulisan.

Buku “TATA BAHASA BATAK TOBA Meresapkan Jiwa dan Darah Batak”, disingkat TBBT-MJDB, karangan Mgr. Dr. Anicetus B. Sinaga OFMCap, penerbit Bina Media Medan, 2002. Dalam buku TBBT-MJDB tidak dicantumkan daftar kepustakaan. Hal ini lazim dalam perbukuan sebagai bahan olahan, rujukan atau referensi. Sebaliknya, alangkah tidak eloknya jika olahan buku dikutip dari karya orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Kata pengantar buku oleh pengarang dengan harapan dapat menjadi acuan internasional? Benarkah faktanya demikian?

Buku-buku yang terbit sebelumnya, di antaranya buku “KAMUS BATAK INDONESIA”, disingkat KBI, karangan J.P. Sarumpaet, MA, penerbit Erlangga, 1994 dan cetakan kedua revisi dengan penerbit yang sama, 1995. Buku lain adalah buku “KAMUS BATAK TOBA INDONESIA”, disingkat KBTI, karangan J. Warneck, penerbit Bina Media Medan, 2001. J.P. Sarumpaet, MA, pengarang buku KBI berpendirian, “istilah bukan Batak harus disaring sekeras-kerasnya. Tidaklah semua kata yang diucapkan atau dituliskan seorang Batak merupakan bagian dari khasanah bahasa Batak”. Mungkin tidak semua ahli bahasa berbagi pendapat itu, tetapi penulis dan mungkin juga mewakili banyak orang berupaya mewujudkannya, baik lisan maupun tulisan.

Kerancuan Tata Bahasa

Dalam buku TBBT-MJDB halaman 19, aktif intransitif disingkat (ai) dan aktif transitif (at). Disebutkan dalam buku, kata sifat pitung (buta) dapat dibuat dua kata kerja aktif. (ai) Mapitung anggina. Adiknya menjadi buta. (at) Ibana mamitung manuk. Dia membutakan ayam. Penulis mengutip yang lain. (ai) Munsat ibana. Ia pindah. (at) Ibana mangunsat hudon. Dia memindahkan periuk. (ai) Nunga mahiang. Sudah mengering. (at) Ibana manghiang eme. Dia mengeringkan padi. Kosakata cetak tebal oleh pengarang buku.

Tidak menjadi soal karangan siapa pun dan dengan dalih apa pun juga, mamitung dan manghiang tidak lazim dipergunakan dalam kaidah bahasa Batak Toba, hal ini dimungkinkan penafsiran keliru. Pitung-mapitung adalah buta. Contoh pemakaian na mapitung (orang buta), tetapi berbagai kalangan orang tua menganjurkan bahasa yang santun yakni “na hurangan simalolong” dengan makna yang sama. Mungkin pengarang buku mengacu ke bahasa Indonesia, membutakan dimaknai mamitung atau terpengaruh dengan mengutip KBTI. Pada halaman buku 246 disebutkan, pitung, mapitung, mamitung, papitung.

Manghiang mungkin juga mengacu ke bahasa Indonesia yakni mengeringkan. Mungkin pilihan kata yang tepat adalah pahianghon (mengeringkan) bukan manghiang. Unsat-mangunsat memiliki makna yang sama menarik kembali (misalkan pemberian sesuatu barang). Diunsat (ditarik kembali). Paunsathon adalah memindahkan. Pilihan kata yang tepat adalah pahosing/hon-hosing-dihosing-manghosing, artinya mengubah letak periuk dalam proses menanak nasi di perapian dengan tujuan agar nasi matang secara merata. Dengan begitu, kata mangunsat dalam contoh penerapan kalimat di atas adalah keliru.

Kini kita bertolak terhadap sisipan-um-. Dalam buku TBBT-MJDB halaman 68 disebutkan, “hampir semua sisipan –um– dapat dijadikan awalan um-“. Beberapa contoh dalam buku. Tumaba→umtaba menebang. Dumanggur→umdanggur melempar. Imbuhan dengan sejumlah contoh dalam buku TBBT-MJDB, tidak lazim dalam bahasa Batak Toba. Dengan kata lain, sejumlah imbuhan itu bukan merupakan bagian dari khasanah bahasa Batak Toba. Untuk pelurusan makna budaya Batak Toba atas kekeliruan ini, penulis menegaskan hal berikut.

Kata “hampir” dapat dimaknai pada umumnya. Sebaliknya, tak satu pun sisipan –um– yang dapat dijadikan awalan um-. Pertama, fungsi utama sisipan –um– adalah menyatakan suatu perbandingan dalam kata sifat. Contoh, tabo-tumabo (enak-lebih enak). Penjelasan singkat, tabo adalah kata sifat biasa, dan tumabo adalah kata sifat komparatif. Timbo-tumimbo (tinggi-lebih tinggi). Namun tidak semua sisipan –um– lazim dipergunakan untuk menyatakan suatu perbandingan dalam kata sifat, melainkan awalan um-. Contoh mora bukan mumora, melainkan ummora. Bolak bukan bumolak, melainkan umbolak. Contoh yang disebut terakhir amat baik dalam buku TBBT-MJDB pada halaman 69.

Kedua, taba (tebang) adalah kata dasar dalam bentuk aktif. Imbuhan kata taba adalah tinaba (ditebang, tebangan), manaba (menebang), ditabai (ditebangi), partaba (penebang pohon). Kata dasar danggur (lempar). Jika dibentuk imbuhan menjadi mandanggur (melempar), didanggur (dilempar), danggurhon (lemparkan), didangguri (dilempari). Dengan jujur dan tegas, dalam berbagai hal terkait ulasan tata bahasa Batak Toba dalam buku TBBT-MJDB merupakan “sensasi”, seolah-olah menemukan sesuatu yang baru justru menimbulkan kesalahan baru dalam bahasa Batak Toba.

Ketiga, semua sisipan –um– dapat dijadikan awalan un-. Contoh mutakhir, tumabo-untabo (kedua kata sifat ini memiliki makna yang sama yakni lebih enak atau lebih nikmat). Tumimbo-untimbo (lebih tinggi), dumao-undao (lebih jauh) dan masih banyak lagi yang lain.

Perlu kiranya dicatat, orang tua dari berbagai kalangan menganjurkan, penggunaan sisipan –um– lebih lazim dibandingkan dengan awalan un– untuk menyatakan suatu perbandingan dalam kata sifat. Hal ini bukan sekadar cita rasa kata dalam pengertian bahasa Indonesia, tetapi hal yang demikian merupakan bagian dari khasanah dan ekspresi batin penutur bahasa Batak Toba.

Kini mari kita cermati buku TBBT-MJDB halaman 60-61. Disebutkan, “tanpa memberi judul awalan tersendiri, kita mencatat adanya awalan tu-. Alasannya ialah kedekatan dan alasan timbulnya awalan ini dari awalan hu-. Hu (ke), terutama di Simalungun, telah mendapat konvensi di Toba untuk diucapkan sebagai tu (ke). Maka tanpa banyak masalah, awalan hu– dapat dikonversikan menjadi awalan tu-“.

Demikian kutipan dari buku TBBT-MJDB. Artinya bahasa Indonesia tersebut bukanlah naskah bahasa Indonesia oleh penulis artikel. Beberapa contoh dalam buku. Humatangistumatangis: bertangisanhumatipultumatipul: berpatahanhumasindaktumasindak: bertegakanhumasedertumaseder: bermenconganhumatindangtumatindang: ramai berdirihumataportumatapor: ramai pecahhumaribotumaribo: ramai cemasPertama, awalan hu– lazim dipergunakan dalam bahasa Batak Toba secara umum di tano Batak.

Sejauh ini, menurut pengamatan penulis, secara khusus di Samosir (mungkin pada umumnya di Kabupaten Samosir), awalan hu– sering digunakan dalam percakapan lisan untuk menggantikan awalan tu-. Contoh, hudia, husan, huson, huhuta dan yang lain. Beberapa contoh pemakaian awalan hu– dalam konteks bahasa Batak Toba secara universal. Hupaboa (paboa), hudok (dok), hubahen (bahen), huloas (loas), husomba (somba), hudalani (dalan), dan masih banyak lagi yang lain. Semua kata dalam tanda kurung adalah kata dasar.

Tegasnya, tidak ada alasan dengan dalih apa pun juga bahwa awalan hu– berasal dari Simalungun seolah-olah dikonversi dalam bahasa Batak Toba. Fakta jangan dibalik, justru bahasa Batak Toba amat berpengaruh besar terhadap berbagai kosakata dalam bahasa Simalungun.

Kedua, awalan tu– juga lazim dalam bahasa Batak Toba, bukan konvensi dari Simalungun. Berbagai kosakata berikut bukan merupakan suatu perbandingan dalam kata sifat di antaranya: tumuntun (baca: tumuttun), tumubuhon, tumadinghon (baca: tumadikkon), tumandanghon (baca: tumaddakkon). Kosakata yang diawali huruf “t” bukan awalan “tu-“, melainkan sisipan “-um-“. Contoh, tonggi-tumonggi (manis-lebih manis), tio-tumio (jernih-lebih jernih), torop-tumorop (banyak-lebih banyak).

Kesimpulan dan Saran

1. Buku setebal 217 halaman termasuk biodata pengarang, maka 3/4 halaman buku perlu diperbaiki (revisi) terutama ulasan mengenai “imbuhan” yang menimbulkan masalah baru dalam kaidah bahasa Batak Toba.

2. Jangan gampangkan bahasa Batak Toba, kaidah bahasa bukan program uji coba, polemik, dan keinginan seseorang pengarang atau penulis, hal itu sudah baku dan berlangsung dari zaman ke zaman, serta hendaknya juga memperhatikan naskah akademik.

3. Terjemahan secara tekstual juga memperhatikan secara kontekstual yang diselaraskan dengan pola susunan kalimat bahasa Batak Toba dalam bahasa Indonesia, sehingga tidak terkesan janggal, hal ini sangat mempengaruhi makna bahasa Batak Toba menjadi tidak utuh.

4. Konvensi atau alasan lain, jangan campur aduk bahasa lain ke bahasa Batak Toba. Seorang Batak terutama dalam bentuk tulisan diharapkan menuliskan bahasa yang mencerminkan khasanah bahasa Batak Toba.

5. Sejatinya, sebuah buku yang mengulas tata bahasa Batak Toba pernah dikomentari ahli bahasa dan menjadi referensi untuk dicantumkan dalam buku.

Paukpauk hudali pagopago tarugi na tading niulaki na sala pinauli, dengan rendah hati penulis juga menerima kritik yang bersifat membangun dari berbagai pihak terkait materi tulisan. Horas. (*)

 

 

(Penulis adalah pemerhati bahasa Batak Toba, tinggal di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara)