1 tahun lalu |21 Oktober 2016 21:41 |1713 Pembaca

Warga Temui Kapolres Taput, Minta Para Tersangka Kericuhan PT SOL Ditangguhkan

Foto: Pertemuan warga Pahae Jae dengan Kapolres Taput AKBP Dudus HD.
TAPUT, SUARATAPANULI.COM – Puluhan warga Kecamatan Pahae Jae mendatangi Mapolres Tapanuli Utara (Taput), Jumat (21/10). Mereka memohon kepada Kapolres AKBP Dudus HD agar menangguhkan penahanan terhadap rekan mereka yang terlibat aksi kericuhan di Kantor PT Hyundai, kontraktor pelaksana pembangunan geothermal PT Sarulla Operation Limited (SOL) di Desa Silakitang pada Sabtu (15/10) lalu.

Permohonan ini disampaikan oleh warga secara langsung kepada Kapolres dalam pertemuan di Ruang Rapat Mapolres. Hadir juga anggota DPRD Tapanuli Utara Rio Panggabean dan kuasa hukum PT SOL Raja Induk Sitompul.

“Kasihan pak, keluarga rekan kami yang ditahan selalu menangis. Anak-anak mereka setiap malam menanyakan kepada ibunya dimana ayah mereka,” ujar Mita Simbolon salah satu utusan warga.

Senada diungkapkan oleh perwakilan warga Hulman Sitompul. Dengan penuh rasa kekeluargaan ia memohon kepada Kapolres untuk memberikan penanguhan penahanan. Sebab warga mengakui tindakan kericuhan telah melanggar hukum, namun hendaknya ada pertimbangan kekeluargaan yang juga mesti disikapi dalam memutuskan persoalan ini.

“Kami minta polisi bertindak secara persuasif dan penuh rasa kekeluargaan. Kami mohon Pak Kapolres arif dan bijaksana dalam upaya menuntaskan masalah ini,” pinta Hulman.

Diterangkan Hulman, pasca kericuhan dan penahanan terhadap warga yang terlibat, saat ini masih banyak warga Pahae Jae yang lari ke hutan karena takut ditangkap polisi.

“Masih banyak warga desa kami yang lari dan bersembunyi di hutan Pak Kapolres. Keberadaan persis mereka kami tidak tahu. Mereka kabarnya takut pulang ke kampung. Kami juga memohon pertimbangan hukum bagi mereka, bila mereka pulang janganlah lagi ada penangkapan,” imbuhnya.

Diceritakan Hulman, aksi yang berakhir dengan kericuhan itu adalah tindakan spontanitas warga yang mendengar adanya suara ledakan keras dari salah satu pipa milik PT SOL. Warga panik dan merasa takut akan terjadi malapetaka atau bencana terhadap mereka dan desanya. Dan pada sisi lain, bahwa sebelum melakukan uji coba itu, pihak PT SOL sendiri tidak ada melakukan sosialisasi kepada warga sekitar.

“Tidak ada sosialisasi akan adanya uji coba. Tidak ada sosialisasi bahwai coba akan menimbulkan suara seperti ledakan keras namun tidak membahayakan. Itu semua tidak ada, maka wajar bila warga kemudian menjadi ketakutan dan emosi seketika itu juga,” tutur Hulman.

Menyikapi permohonan warga, Kapolres AKBP Dudus HD dalam pertemuan itu sepakat bahwa reaksi warga saat itu memang spontanitas. Tetapi sayangnya gerakan spontanitas yang menjurus melakukan pengerusakan, penganiayaan dan pencurian itu merupakan tindakan pelanggaran hukum.

“Seluruh kronologis yang terjadi saat itu dan seluruh perkembangannya, setiap saat saya laporkan kepada pimpinan¬† yakni Kapolda Sumut. Masyarakat harus taat kepada hukum, itu perintah Pak Kapolda,” tegas AKBP Dudus.

Terkait permintaan akan penangguhan penahanan, Kapolres tidak bisa mengabulkannya. “Saran saya, silahkan para utusan warga atau pun tokoh desa meminta langsung Pak Kapolda, kalau beliau mengabulkannya, hari itu juga saya keluarkan (ditangguhkan),” ujar Kapolres.

Redaktur: Mora