11 bulan lalu |15 November 2016 09:07 |8770 Pembaca

1000 Lilin di Tarutung untuk Korban Bom Samarinda

Foto: Aksi menyalakan 1000 lilin di perempatan Jln Sisingamangaraja Kota Tarutung, Tapanuli Utara, Sumut, sebagai bentuk solidaritas atas korban aksi teror bom di Samarinda.
TARUTUNG, SUARATAPANULI.COM – Aksi menyalakan lilin sebagai bentuk solidaritas terhadap balita korban teror bom di Gereja Oikumene Samarinda, dilakukan puluhan elemen masyarakat di Simpang Empat Kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, Senin (14/11) malam.

Meski sempat diguyur hujan, aksi damai puluhan elemen masyarakat dari ALTRA (Aliansi Tapanuli Raya), GMKI dan GAMKI tidak menyurutkan niat untuk menyalakan lilin dengan tema “Damailah Indonesiaku”.

Pantauan awak media, setelah menyalakan lilin, elemen masyarakat ini menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian melakukan doa bersama, mendoakan balita yang meninggal akibat teror bom yakni Intan Olivia Marbun (2,5), serta mendoakan tiga anak lainnya sehat dalam dalam perawatan medis.

Selanjutnya satu persatu perwakilan melakukan orasi mengutuk dan mengecam aksi teror, dan berharap pelaku dihukum seberat-beratnya agar peristiwa yang sama tidak lagi terulang.

Berikut pernyataan sikap Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), GAMKI, ALTRA (Aliansi Tapanuli Raya)

Aksi terorisme yang terjadi di Gereja Oikoumene, Kota Samarinda, Kalimantan Timur merupakan provokasi yang tidak boleh dianggap sepele oleh setiap elemen bangsa. Pasalnya, aksi terorisme ini patut diduga kuat sengaja menyasar anak-anak yang sedang bermain di luar gedung ketika orangtua mereka sedang melakukan peribadatan.

Empat orang anak menjadi korban dalam aksi terorisme provokatif ini. Empat orang anak yang menjadi korban tersebut diketahui sedang bermain menunggu selesainya peribadatan orangtua mereka.

Diduga sekitar ratusan jemaat sedang beribadah pada saat terjadinya peledakan. Kebanyakan dari jemaat yang melakukan peribadatan adalah orangtua yang memang sengaja membawa anak-anak mereka juga untuk beribadah.

Upaya deradikalisme yang digaungkan pemerintah untuk  mereduksi aksi terorisme seharusnya berbuah baik. Namun dengan adanya insiden Samarinda, membuka mata kita, kelompok teroris yang menginginkan Negara yang berideologi Pancasila ini runtuh, masih subur dan bebas bergerak.

GMKI, GAMKI dan ALTRA menyatakan:

1. Menyayangkan dan mengecam tindakan pelemparan bom yang dilakukan oleh residivis teroris di Gereja Oikumene Kota  Samarinda, Kalimantan Timur pada hari Minggu 13 November 2016.

2. Mengutuk keras siapapun yang mendalangi aksi terorisme yang menyasar anak-anak sebagai korban, terlepas apa pun yang mendasari tindakan tersebut.

3. Kepala Kepolisian Republik Indonesia agar mengantisipasi aksi terorisme yang menyasar rumah ibadah yang menjadikan anak-anak sebagai korban. Setiap kepolisian daerah di seluruh Indonesia harus serius menjaga keamanan setiap warga negara.

4. Meminta dengan rendah hati setiap tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama untuk bahu-membahu dalam menjaga kebhinekaan di tengah-tengah masyarakat yang majemuk dan menunjukkan bahwa ideologi Pancasila tidak akan kalah dengan sekelompok orang yang ingin memecah persatuan bangsa.

5. Meminta kepada seluruh pengurus OKP dan Organisasi masyarakat yang di seluruh tanah air untuk melakukan konsolidasi dengan setiap organisasi lintas organisasi kepemudaan dan Organisasi masyarakat mahasiswa agar dapat menjaga keutuhan bangsa.

7. Organisasi mepemudaan dan ormas diminta agar seluruh elemen masyarakat Indonesia tidak terprovokasi atas peristiwa terorisme yang memprovokasi dengan cara menyerang rumah ibadah dan menyasar anak-anak. Kita tunjukkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang solid, toleran, serta damai dan tidak bisa dipecah-belah oleh pihak manapun.

Editor: Mora