2 tahun lalu |31 Maret 2016 16:49 |878 Pembaca

25 Tahun Derita Hydrocephalus, Heni Pantang Menyerah

Foto: Deny mendorong tempat tidur berjalan adiknya Heni Caniago. HN/ST

Pewarta: HN

SIBOLGA, SUARATAPANULI.COM- Perlahan, Deny Caniago mendorong tempat tidur khusus adik perempuannya Heni Caniago yang terbaring lunglai di atasnya. Sejak bayi, Heni sudah menderita hydrocephalus. Ajaibnya, hingga kini dia masih bertahan hidup diusianya yang telah 25 tahun.

Kata Deny, sudah sekitar 2 bulan keduanya berjuang hidup di Kota Sibolga. Mereka keliling kota, ke tempat-tempat yang ramai orang untuk menggalang sumbangan bagi Heni.

“Pantang Menyerah!”, ungkapan klasik ini yang menjadi prinsip dan penguat semangat hidup Heni dan Deny. “Kami datang dari Padang, Sumatera Barat. Nekad ke Sibolga untuk mengumpulkan sumbangan dari siapa saja yang bermurah hati. Sumbangan yang dapat kami pakai untuk berobat dan biaya hidup sehari-hari,” kata Deny kepada awak SuaraTapanuli.Com, Kamis (31/3).

Siang itu Deny membawa Heni ke  pelataran parkir Terminal Sibolga, Jalan Sisingamangaraja. Tempat itu memang kawasan paling ramai di kota ini, apalagi terminal dengan Pasar Sibolga Nauli letaknya berdekatan. Setiap hari ribuan orang hilir mudik di kawasan pusat kota itu.

Tempat tidur Heni sendiri dirancang khusus terbuat dari besi dengan 4 roda di keempat tiang kakinya. Itu untuk memudahkannya didorong dan berpindah tempat. Bila di luar ruangan, apalagi saat terik matahari, Deny mengikatkan sebuah payung pada bagian tempat tidur, untuk menaungi tubuh adiknya.

Di sisi kiri kanan tempat tidurnya digantungnya ember sebagai tempat uang sumbangan. Uang sumbangan yang terkumpul terlihat pecahan dua ribuan hingga dua puluh ribuan.

“Kami datang dari Padang ke Sibolga ini naik mobil sewa. Kami pindah-pindah, rencana sampai ke Medan,” ungkap Deny lagi.

Selain di terminal dan pasar, beberapa hari ini keduanya juga kerap terlihat di Lapangan Simaremare Sibolga. Kebetulan di lapangan itu saat ini sedang digelar Pameran Pembangunan Hari Jadi Kota Sibolga ke-316 tahun.

Melihat keadaan Heni, tak sedikit warga yang merasa iba dan memberikan sumbangan seikhlasnya. “Kasihan sekaligus prihatin melihatnya. Tapi saya pikir anak ini luar biasa bisa bertahan hidup sampai sekarang,” ucap Husni Tanjung, warga, usai memberikan sumbangan ke dalam ember Heni.

Menurut Deny, Heni selalu tetap berdoa dan berharap bisa sembuh dengan jalan dioperasi. Sehingga Heni bisa hidup normal. Namun mereka belum punya uang untuk itu. Apalagi biaya operasi akan sangat besar. “Kalau sudah cukup uangnya, dia mungkin bisa dioperasi,” kata Deny.

Heni sendiri terlihat hanya bisa terbaring diatas kasurnya itu. Untuk bicara saja dia sulit. Kedua bola matanya hanya bisa melengak melongok tanpa bisa menggerakkan kepala. Penggumpalan cairan di kepalanya itu membuat ukuran kepalanya membesar hingga dua kali kepala manusia normal seusianya.

Untuk makannya sehari-hari, Heni juga disuapi kakaknya itu. Biasanya Heni makan bubur. Deny juga menceritakan, bila malam saat waktunya istirahat, mereka sering menompang di teras rumah warga yang berbaik hati memberi tempat. Pagi harinya mereka kembali berkeliling untuk mengumpulkan sumbangan.

“Kalau memang memungkinkan, kami berencana mengontrak rumah yang murah-murah untuk sementara di Sibolga ini,” pungkas Deny.

Editor: Mora