1 bulan lalu |17 Oktober 2017 10:24 |125 Pembaca

Personil KP Parikesit dituding “Peras” pemilik kapal

Kapal Parikesit yang sandar di kawasan pelabuhan TPI Pondok Batu, Tapteng. Foto: Dok.

Sibolga – Nelayan dan pengusaha kapal di Kota Sibolga resah dengan kehadiran Kapal Patroli (KP) Parikesit di kawasan perairan Sibolga dan Tapteng. Pasalnya, personil KP Parikesit dibawah kepemimpinan Kompol Zuhdi Gozali diduga melakukan pemerasan terhadap pengusaha atau pemilik kapal-kapal yang ditangkap.

Informasi dihimpun dari sejumlah nelayan di Kota Sibolga menyebutkan, keresahan mereka diakibatkan adanya patroli KP Parikesit belakangan ini di perairan Sibolga, Tapteng hingga Aceh.

“Para petugas KP Parikesit itu tidak hanya menangkapi kapal nelayan berukuran besar saja, tapi juga pernah menangkap kapal ikan nelayan berukuran kecil. Meskipun dokumen kami lengkap, kami enggan berurusan dengan mereka. Sebab kami merasa terganggu dengan pemeriksaan yang mereka lakukan,” ujar sejumlah nelayan dan pemilik kapal yang enggan disebutkan namanya.

Menurut mereka, sejumlah kapal berukuran besar yang diduga tidak lengkap dokumennya milik sejumlah pengusaha asal Sibolga dan Tapteng juga telah ditangkap oleh personil KP Parikesit, bahkan ada yang sudah sampai ke persidangan.

“Ironisnya, pihak KP Parikesit terindikasi menerima upeti dari sejumlah pemilik kapal dan nominalnya antara 30 juta rupiah hingga 40 juta rupiah,” jelas mereka.

Bahkan, sambung mereka, pada tanggal 17 Agustus 2017 lalu KP Parikesit berangkat menuju Simeleu, Aceh dan selama sekitar 3 minggu disana mereka juga dikabarkan menangkap kapal Pukat Cincin asal Kota Sibolga.

“Dan kita mendapatkan informasi kalau Pukat Cincin yang mereka tangkap lalu dilepas, setelah si pengusaha atau pemilik kapal memberikan upeti atau tebusan kepada komandan dan personil KP Parikesit,” jelas mereka.

Tak hanya itu, sambung mereka, pada pertengahan bulan September lalu KP Parikesit kembali ke perairan Sibolga dan melakukan penangkapan kayu beserta kapalnya di TPI Pondok Batu, Tapteng.

“Namun karena pemilik kapal berinisial Al diduga telah melakukan perdamaian dengan personil KP Parikesit dengan memberikan tebusan, kapal dan kayu yang ditangkap juga dilepas,” beber mereka lantas menambahkan pihak KP Parikesit juga diduga telah melakukan penangkapan terhadap kapal langsir BBM.

Menurut mereka, dalam waktu dekat mereka akan melakukan aksi unjuk rasa kepada kedua pemerintah daerah beserta lembaga DPRD guna menyampaikan keluhan mereka terkait kehadiran KP Parikesit.

“Kita tidak menolak kehadiran mereka di Sibolga dan Tapteng ini, dengan catatan mereka melakukan tugas sesuai dengan prosedurnya. Namun, jika tujuan mereka menangkap dan kemudian menerima setoran dari pengusaha kapal supaya dilepas, itu yang tidak kita terima. Inilah alasan utama kami hingga enggan melaut,” tegas mereka seraya berharap agar pemerintah dan DPRD menyikapi persoalan tersebut.

Sementara, Komandan KP Parikesit, Kompol Zuhdi Gozali yang dikonfirmasi terkait hal itu membantah kalau pihaknya melakukan tangkap lepas terhadap sejumlah kapal nelayan di Kota Sibolga, karena adanya setoran dari pengusaha atau pemilik kapal.

“Nggak ada. Kalaupun ada kapal yang ditangkap kemudian kita lepas karena memang tidak cukup bukti, gimana lagi. Kadangkan ada kapal yang tidak punya buku pelaut misalnya, saya kira kalau kapal GT 200 ke atas baru bisa. Cuma karena ini kapal kecil, maka kita lepas lagi,” jelas Gozali, beberapa waktu lalu saat dikonfirmasi sejumlah awak media dikawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pondok Batu, Tapteng.

Foto Kapal Nelayan sandar dikawasan dermaga TPI Pondok Batu, Tapteng. DOK.

Dia mengakui, selama operasi pihaknya telah menangkap 3 atau 4 kapal yang tidak memiliki SIPI dan SPB, namun kapal yang diperiksa memang banyak.

“Kalau kapal yang kita periksa banyak, kalau dokumennya lengkap memang kita lepas. Kitakan kadang saat memeriksa kapal semua lengkap, dugaan atau indikasi memang tidak ada ya memang langsung kita lepas,” terangnya.

Menurut dia, pihaknya justru heran jika dituding melakukan tangkap lepas terhadap sejumlah kapal nelayan, termasuk kapal yang membawa kayu.

“Justru target kita adalah untuk menangkap kapal yang memuat kayu (Illegal Logging, red) dan kapal nelayan yang menggunakan bom ikan. Justru jika ada nelayan yang tidak melaut dengan alasan kehadiran kami disini, mungkin kapal mereka tidak lengkap dokumennya,” tandasnya lantas menegaskan kalau pihaknya tidak melakukan tangkap lepas karena sudah menerima setoran dari pengusaha atau pemilik kapal. (rilis/st)