2 tahun lalu |4 April 2016 11:30 |878 Pembaca

Produktif di Sosmed Untungkan Calon Kada

Ilustrasi

TAPTENG, SUARATAPANULI.COM – Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Fakhrur Rozi mengatakan, pemanfaatan sosial media (sosmed) saat ini menjadi tren tersendiri di kalangan elit politik, khususnya para kandidat bakal calon kepala daerah (balon kada) yang akan bertarung pada pilkada.‬

“Sudah menjadi tren, penggunaan media sosial oleh balon kada terlebih pada pemanfaatan teknologi informasi,” kata Rozi kepada SUARATAPANULI.COM, Senin (4/4).‬

Dosen Ilmu Komunikasi ini mengatakan, pemanfaatan jejaring sosmed memberikan sejumlah keuntungan bagi kandidat. Diantaranya, proses sosialisasi atau pengenalan diri ke masyarakat dengan cepat dan efisien.‬ Para bakal calon juga memiliki keleluasaan untuk menyampaikan ide, gagasan dan pesan-pesan politiknya.‬

“Yang ketiga, yakni dengan respon yang muncul dari pesan politik di sosmed misalnya like, comment atau share yang disediakan di sosmed, balon bisa membaca peluang dan penerimaan publik sosmed. Paling tidak ini dimanfaatkan si balon untuk membangun tingkat kepercayaan dirinya,” imbuhnya.‬

Mantan aktifis yang pernah menjabat Ketua BEM STIKP Medan era 2000-an itu menilai, produktifitas bakal calon menggunakan sosmed agaknya kini telah menjadi parameter tersendiri. Apalagi di wilayah perkotaan, dan wilayah dimana penggunaan sosmed cukup tinggi.‬

“Ya (menjadi parameter tersendiri-red), terutama di perkotaan atau masyarakat di daerah yang memiliki fasilitas broadband yang baik seperti Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan daerah-daerah lain dimana pengguna sosmed nya tergolong tinggi dan produktif,” kata Rozi.‬

‪Begitupun, Rozi mengingatkan, parameter balon kada produktif menggunakan sosmed bukanlah ukuran sesungguhnya. Strategi pemenangan di dunia nyata adalah faktor terpenting.‬

“Jika kemudian muncul fakta, balon yang aktif di sosmed juga memenangkan pertarungan, itu lebih disebabkan pada ‘pertarungan darat’,” pungkasnya.‬

Diketahui, menjelang Pilkada Tapanuli Tengah 2017, suhu politik di daerah itu terus memanas. Keriuhan dan perdebatan di sosmed khususnya facebook tak kalah gencarnya. Sejumlah akun bakal calon terpantau terus aktif melakukan sosialisasi, publikasi aktifitasnya di tengah-tengah masyarakat hingga penetrasi ide dan penyampaian kritik.‬

Diketahui pula, tercatat lebih dari 20 nama berlatar belakang berbeda baik politisi, birokrat, tokoh agama hingga pengusaha bermunculan dan mengaku akan maju sebagai kandidat bakal calon bupati dan wakil bupati di pilkada nanti.

Beberapa diantaranya disebut-sebut akan maju melalui jalur perseorangan. Sementara, partai politik terus berjibaku melakukan penjaringan dan lobi-lobi untuk untuk membangun koalisi.

Editor: Mora