2 tahun lalu |7 April 2016 13:49 |1846 Pembaca

Melahap ‘Sop Tulang Gajah’ di Kota Salak

Foto : Seorang pelanggan sedang menikmati sop tulang gajah ala RM Angin Berhembus, Kota Padangsidimpuan. Raymon/ST

KABUT tebal menutupi sepertiga puncak Gunung Sanggarudang yang kelihatan dari Kota Padangsidimpuan. Ke arah Sadabuan, menuju Sibolga, pemandangan tertutup oleh barisan pegunungan yang membiru. Selain Sanggarudang, ada juga Gunung Lubuk Raya.

Penulis: Raymon

Seperti biasa, jalanan kota ini selalu diramaikan oleh suara becak mesin vespa. Kami harus makan siang karena perut sudah keroncongan di jam krusial sekira pukul 12.30 WIB. Apalagi cuaca dingin yang menyelimuti kota berjuluk Kota Salak itu seakan mempercepat datangnya lapar. Tujuan kami adalah RM Angin Berhembus yang terletak di daerah Sadabuan, atau sekitar 10 menit berkendara dari jantung kota.

Rumah makan ini direkomendasikan seorang teman yang kebetulan dulu pernah bertugas di Tapsel. Letaknya di pinggir Jalinsum Padangsidimpuan-Sibolga. Di sekelilingnya terhampar perkebunan palawija.

Kami sengaja mengejar tiba lebih awal sebelum rumah makan itu terlanjur ramai pada saat jam makan siang.

Seorang ibu setengah baya memakai songkok menyambut kami di rumah makan berpanggung kayu itu. Sederhana sekali. Tapi di bagian dalam, berbagai perusahaan minuman ringan dan rokok memasang papan-papan reklamenya. Rupanya mereka sudah tahu, rumah makan ini tepat sekali sebagai media promosi.

“Silakan duduk. Mau pesan sop tulang sum-sum atau ikan mas bakar?,” sapanya hangat dengan logat khas Tapsel.

Kami memesan kedua-duanya. Tidak berapa lama menu pesanan kami tadi diantarkan ke hadapan kami. Masih dalam keadaan panas berasap. Harumnya, alamak.

Seorang teman menyebutkan, sop tulang sum-sum di sini adalah yang terbaik di Padangsidimpuan. Bahkan beberapa orang berani menyebutkannya sebagai yang terbaik di Sumatera Utara. Kami pun jadi tak sabar untuk segera mencobanya.

Dan ternyata pujian itu tidak berlebihan. Sop ini benar-benar membuat kami harus melupakan suasana sekeliling untuk beberapa saat. Racikan bumbunya mengena dan langsung menaklukkan selera. Suasana makan siang pun terasa bagai perjamuan istimewa. Uniknya pula, agar lebih puas menikmati sum-sumnya, disiapkan sebuah sedotan yang dimasukkan ke dalam rongga tulangnya. Ditambah cabai rawit giling dan potongan jeruk nipis membuat lidah bergetar.

Foto: Penikmat 'sop tulang gajah' menyedot sum-sum dengan sedotan. Raymon/ST Foto: Penikmat ‘sop tulang gajah’ menyedot sum-sum dengan sedotan. Raymon/ST

 

Kami tidak sedang menyuruh Anda datang ke Padangsidimpuan. Tapi bila karena suatu hal Anda berada di kota ini, cobalah mampir ke rumah makan yang satu ini.

Rumah makan ini adalah milik sepasang suami istri bernama Hj Nurmainah Harahap dan H Dahron Dalimunthe. Dulunya, keluarga mereka  hidup sangat sederhana. Sang suami hanya bekerja menjaga kebun pisang milik orang lain. Hingga pada suatu hari mereka mencoba membuka kedai nasi kecil-kecilan. Setelah itu mereka berpindah-pindah tempat sampai 2 kali, hingga akhirnya menetap di lokasi yang sekarang.

Kini keduanya tak lagi serepot dulu mengelola bisnis keluarga yang terus berkembang hingga bisa mempekerjakan beberapa pelayan pembantu. Aset mereka terus bertambah. Bahkan sekarang, seorang anak perempuannya telah membuka cabang RM Angin Berhembus di Kota Panyabungan.

Meski tampilan rumah makannya sederhana, tapi pengunjungnya bukanlah orang biasa saja. Sejumlah orang penting dari Jakarta, baik pejabat pemerintahan, pengusaha, artis, maupun pejabat daerah tak jarang kepergok makan di sini.

Lucunya, sang pemilik rumah makan sering tidak mengenal tamu-tamu penting yang datang ke tempatnya. Mereka memang tidak memiliki segmentasi ketat terhadap siapa tamu yang datang.

Nama rumah makan ini terinspirasi oleh lokasinya yang memang kaya angin. Ruangan makan dibiarkan terbuka sehingga angin sejuk dari puncak pegunungan bebas keluar masuk.

Tapi, sehabis menyantap sop apalagi tambo pula, pelupuk mata bisa sulit diajak kompromi. Kantuk karena perut kenyang datang seperti sihir yang menyerang dibuai hembusan angin.

“Luar biasa sopnya bah. Paten! Ini kayak sop gajah, karena porsinya yang besar. Perut penuh, mata kemudian ditarik karena hembusan angin sepoi-sepoi nya,” ucap salah satu teman yang ikut mencicipi lezatnya sop yang sebenarnya berbahan tulang kerbau itu.

Soal harganya cukup terjangkau. Seporsi sop gajah ini dihargai Rp30 ribu saja. Pemiliknya mengaku bisa menjual puluhan porsi dalam sehari. Laris manis RM Angin Berhembus.

Editor: Okt