2 tahun lalu |8 April 2016 17:12 |1311 Pembaca

Pekan Depan Organda Bahas Tarif Angkutan di Sibolga-Tapteng

Foto: Suasana di Terminal Sibolga, terlihat angkot berderet menunggu penumpang. Fredes/ST

SIBOLGA, SUARATAPANULI.COM -Organisasi Gabungan Angkutan Darat (Organda) Sibolga-Tapanuli Tengah (Tapteng), belum menurunkan tarif angkutan kota (angkot) dan angkutan pedesaan (angdes) di kedua daerah itu.

Padahal pemerintah melalui Menteri Perhubungan sudah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 26 Tahun 2016 yang menginstruksikan tarif angkutan turun sebesar 3,5 persen.

Ketua Organda Sibolga-Tapteng, Syahbullah Silitonga mengatakan, pihaknya untuk sementara ini belum memutuskan akan menurunkan tarif atau tidak, menunggu adanya keputusan rapat yang akan digelar Senin (11/4) mendatang untuk penentuan tarif baru.

“Hari Senin nanti akan dilakukan pembahasan tarif angkutan menyusul turunnya harga BBM. Kita sudah menerima undangan dari dinas perhubungan,” kata Syahbullah kepada Suara Tapanuli, Jumat (8/4) di Pandan, Tapteng.

Foto: Ketua Organda Sibolga-Tapteng, Syahbullah Silitonga. Foto: Ketua Organda Sibolga-Tapteng, Syahbullah Silitonga.

 

Ketika ditanya apakah pihak Organda Sibolga-Tapteng siap untuk menurunkan harga tarif angkutan. Menurut Syahbullah, pihaknya tetap mengikuti petunjuk dari Organda pusat. “Kalau pemerintah menginginkan turun 3 persen, Organda mau tidak mau harus menurunkannya. Namun tentunya harus dibicarakan bersama para direksi dan supir. Harapan kita, agar Dishub Tapteng mengundang supir yang sebenar-benarnya pada rapat nanti. Karena selama ini asal rapat, yang hadir bukan supir yang resmi,” ungkapnya.

Menurut Syahbullah, dengan kebijakan penurunan harga BBM, seharusnya pemerintah juga membuat kebijakan menyeimbangkan harga dengan menurunkan harga spare part, ban dan harga kebutuhan pangan, sehingga pendapatan yang diperoleh sesuai dengan biaya operasional yang dikeluarkan para supir angkutan.

“Sudah berkali-kali harga BBM turun, tapi harga spare part gak turun, oli juga gak turun. Harga kebutuhan pangan juga masih naik,” tukasnya.

Ancam Mogok Operasi

Lebih lanjut dikatakan Syahbullah, yang menjadi keluhan supir selama ini adalah masalah infrastruktur jalan nasional yang sangat buruk di daerah itu. Apalagi, mengingat selama ini perbaikan jalan hanya dilakukan sebatas tambal sulam saja.

“Buruknya kondisi jalan membuat para supir mengerang, sebab selain merusak kendaraan, juga sering terjadi kecelakaan lalulintas. Pertanyaan kami, apakah dari tahun ke tahun jalan nasional Sibolga–Tapteng ini hanya dilakukan tambal sulam. Dan hal ini setiap tahunnya sudah kami pertanyakan kepada PPK 12 Sibolga. Dan mereka menjawab, akan dikerjakan, tapi kenyataannya hanya tambal sulam saja,” ungkapnya.

Syahbullah menegaskan, jika pemerintah nantinya tidak juga memperbaiki infrastruktur jalan, maka Organda akan melakukan aksi mogok. Sebab menurutnya, kondisi jalan yang rusak juga mempercepat usia pakai suku cadang mobil angkutan seperti shock breaker, ban, dan lainnya.

“Seharusnya, dalam satu tahun kita membeli dan mengganti berbagai suku cadang ini sebanyak dua kali. Karena buruknya jalan, kita jadi harus membeli dan ganti suku cadang sampai empat kali. Untuk itu, Organda meminta pemerintah daerah untuk segera memperbaiki infrastruktur jalan. Tak ada itu alasan keterbatasan anggaran. Selama ini, para pengemudi angkutan selalu dipungut retribusi setiap harinya. Bila bukan untuk ikut membiayai infrastruktur, lalu untuk apa bayar retribusi itu. Kalau tuntutan ini tidak diindahkan, apa boleh buat, kami akan menggelar mogok operasi massal,” pungkasnya.

Editor: Mora