2 tahun lalu |8 April 2016 23:07 |1377 Pembaca

8 Pendemo Listrik di Kantor PLN Nias Masih Ditahan Polisi

Kasat Reskrim Polres Nias AKP Selamat Harefa didampingi Kanit I Ipda Enand Daulay saat memberikan penjelasan kepada wartawan, Jumat (8/4). AL/ST

GUNUNGSITOLI, SUARATAPANULI.COM – Delapan dari sepuluh demonstran yang diamankan Polres Nias saat aksi protes pemadaman listrik di depan Kantor PT PLN Area Nias, Jalan Sirao, Kelurahan Pasar, Kota Gunungsitoli, telah resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Kabarnya, sejak ditahan pekan lalu hingga kini mereka belum bisa dijenguk oleh keluarganya masing-masing.

Kedelapan demonstran itu diantaranya berinisial SZ, RT, SH, FL, RL, SL, AN dan AH. Mereka ditahan di sel Mapolres Nias.

Kasat Reskrim Polres Nias AKP Selamat K Harefa menyebutkan, para tersangka dijerat dengan UU Nomor 9 Tahun 1998 tentang menyampaikan pendapat di muka umum, Junto Pasal 214, 212 dan 316 KUHPidana, dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Menurut Kasat Reskrim, petugas membubarkan paksa para demonstran karena aksi itu tanpa pemberitahuan dan melanggar UU terkait. “Setelah dilakukan penyidikan dengan alat bukti yang diatur dalam Pasal 184 KUKPidana dan beberapa pasal lainnya, maka delapan demonstran ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan,” kata Kasat.

Terkait isu yang menyebutkan bahwa diantara para tersangka ada oknum wartawan dan LSM, Kasat membantahnya. “Soal isu bahwa demonstran yang ditahan itu ada wartawan dan LSM, kami tidak tahu itu. Kami berpedoman dengan identitas yang dimiliki mereka saat diperiksa. Dimana sesuai KTP masing-masing, yang para tersangka itu berprofesi sebagai petani, mahasiswa dan wiraswasta,” terang Kasat Reskrim.

Sementara terkait tudingan pembatasan dijenguk oleh pihak keluarga para tersangka, Kasat Reskrim menerangkan bahwa sesuai ketentuan, untuk membesuk tahanan ada SOP-nya.

“Pada malam hari tahanan tidak diperbolehkan dibesuk, dan semua ada ketentuan yang mengaturnya. Apalagi akhir-akhir ini listrik sering padam, sehingga tidak dapat menerangi seluruhnya ruangan tahanan secara maksimal, sehingga untuk keamanan, kami membatasi tahanan untuk dibesuk,” terangnya.

Mengenai rumor ada beberapa tersangka yang terluka saat diamankan, Kasat Reskrim juga mengakui bahwa sesuai UU Nomor 9 Tahun 1998, telah dijelaskan bagaimana aturan untuk pembubaran. Saat melakukan pembubaran, pasti memungkinkan terjadi gesekan fisik antara petugas dengan para demonstran.

“Saat pembubaran pasti ada kontak fisik yang mungkin saja menyebabkan luka. Mungkin karena terbentur saat menyelamatkan diri. Beberapa petugas polisi juga mengalami luka dan kekerasan saat pembubaran malam itu,” ujar AKP Selamat.

Berdasarkan ‪informasi yang dihimpun, keluarga korban menyatakan tidak terima atas penahanan kedelapan demonstran itu. Mereka akan menempuh jalur hukum untuk memperjuangkan hak-hak para tersangka.

Editor: Mora